Senin, 18 Juni 2012

Tugas Pembelajaran Menulis


STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR


A.    Latar Belakang
Kemampuan berbahasa adalah kemampuan menggunakan bahasa. Ada empat aspek ketarampilan berbahasa yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Kemampuan mendengarkan dan membaca disebut kemamampuan reseptif sedangkan kemampuan berbicara dan menulis dinamakan kemampuan produktif. Kemampuan reseptif dan kemampuan produktif dalam berbahasa merupakan dua sisi yang saling mendukung, saling mengisi, dan saling melengkapi. Seseorang yang ingin mengembangkan kemampuan berbicara dan menulis, mestilah banyak mendengar dan membaca. Oleh karena, dengan mendengar dan membaca akan diperoleh informasi untuk dibicarakan dan dituliskan. Mengembangkan kemampuan mendengar dan membaca, seyogyanya pula diawali dengan kegiatan berbicara dan menulis. Begitulah keempat aspek berbahasa itu saling mendukung.
Menulis termasuk aspek kegiatan berbahasa yang dianggap sulit. Hal itu sudah menjadi opini umum, bahwa menulis itu memang sulit. Bukan hanya peserta didik di pendidikan dasar dan menengah, mahasiswa di pendidikan tinggi, dan bahkan orang-orang yang sudah menamatkan perguruan tinggi pun mengalami kesulitan dalam menulis.
Menulis seperti halnya kegiatan berbahasa lainnya, merupakan keterampilan. Setiap keterampilan hanya akan diperoleh melalui berlatih. Berlatih secara sistematis, terus-menerus, dan penuh disipilin merupakan resep yang selalu disarankan oleh praktisi untuk dapat atau terampil menulis. Tentu saja bekal untuk berlatih bukan hanya sekedar kemauan, tetapi juga ada bekal lain yang perlu dimiliki. Bekal lain itu adalah pengetahuan, konsep, prinsip, dan prosedur yang harus ditempuh dalam kegiatan menulis. Jadi ada dua hal yang diperlukan untuk mencapai ketrampilan menulis yakni pengetahuan tentang tulis-menulis dan berlatih untuk menulis.
 
B.     Tujuan
Standar Kompetensi Menulis pada Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1.      Siswa mampu menemukan, membedakan, dan menuliskan informasi dalam bentuk wacana bercorak naratif, deskriptif, ekspositoris, dan argumentatif.
2.      Siswa mampu mengungkapkan informasi dalam bentuk  ringkasan/rangkuman, notulen rapat, dan karya ilmiah.
3.      Siswa mampu mengungkapkan informasi dalam bentuk surat lamaran, laporan, paragraf  persuasi dan argumentatif.
4.      Siswa mampu mengungkapkan pikiran dan informasi melalui kegiatan menulis berbagai jenis paragraf   dan makalah.

C.    Ruang Lingkup
Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan menulis dalam berbagai bentuk kegiatan yang bervariatif untuk mengungkapkan informasi.
 
D.    Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

NAMA SEKOLAH               : SMK Nur Madinah
MATA PELAJARAN                        : Bahasa Indonesia
KELAS/SEMESTER             : XI / 3 & 4     
STANDAR KOMPETENSI  : Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia setara tingkat Madia
KODE KOMPETENSI          : 2
ALOKASI WAKTU              : 71 X 45 menit




KOMPETENSI DASAR
MATERI PEMBELAJARAN
KEGIATAN PEMBELAJARAN
INDIKATOR
PENILAIAN
ALOKASI WAKTU
SUMBER BELAJAR
TM
PS
PI
2. 1    Menyimak untuk menyimpulkan informasi yang tidak bersifat perintah dalam konteks bekerja

·     Teknik membuat catatan verbal, dan non-verbal sebagai dasar untuk membuat simpulan (lisan/tertulis)
·     Teknik menyimpulkan secara induktif dan deduktif
·     Teknik menyampaikansimpulan dan pendapat
·     Teknik membuat simpulan lisan maupun tulisan dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, termasuk di dalamnya kesadaran berbahasa/sikap berbahasa yang positif
·     Menyimak berbagai informasi yang disampaikan secara lisan tentang bahasa sebagai sarana berkomunikasi dan alat berpikir, bahasa sebagai unsur dan pengembang kebudayaan, serta kedudukan dan fungsi bahasa Indoensia, bahasa daerah, dan bahasa asing di Indonesia
·     Mencatat ide-ide pokok dari informasi yang disimaknya
·     Mengubah informasi ke dalam bentuk non-verbal
·     Menyusun simpulan secara deduktif/induktif dari informasi yang terdapat dalam teks non-verbal yang dibuatnya
·     Menyampaikan simpulan informasi tentang isi teks non-verbal yang dibuatnya dengan menggunakan bahasa Indoensia yang baik dan benar
·     Mengubah informasi dari bentuk lisan ke dalam bentuknon-verbal (bagan/tabel/diagram/  grafik/ denah/matriks)
·     Menyampaikann pendapat/opini dengan menggunakan teknik penyampaian simpulan dan pendapat yang akurat secara deduktif atau induktif
·     Menggunakan bahasa Indoensia yang baik dan benar dalam menyimpulkan sesuatu informasi
·     Jenis tes:
-     lisan
-     tulisan
-     perbuatan
·     Bentuk tes:
-     objektif
-     uraian
6
-
-
·     Bahan simakan: rekaman, khutbah, dialog dsb.
·     Modul B. Ind. tkt. Madia
·     Keraf.G. (1987).Argumentasi dan Narasi.
·     Bambang Kaswati P. (1992).Teknik Menulis Laporan
·     Parera,J.D. (1987).Belajar Mengemukakan Pendapat.
2. 2    Menyimak untuk memahami perintah yang diungkapkan atau yang tidak dalam konteks bekerja
·     Kiat mengenali perintah lisan, seperti intonasi dan tekanan
·     Kiat  merumuskan perintah atau rencana tindak lanjut dalam bentuk kerangka, atau bagan
·     Menyimak perintah dari pemberi perintah/ narasumber
·     Merumuskan isi perintah secara berkelompok
·     Menindaklanjuti isi perintah dalam bentuk kerangka atau bagan
·     Menjelaskan isi perintah yang terdapat dalam kerangka atau bagan
·     Mengonfirmasikan kebenaran rencana kegiatan yang akan dilakukan kepada pemberi perintah
·     Merumuskan kembali isi perintah (secara lisan, maupun tulisan)
·     Menuliskan kembali isi perintah dalam bentuk kerangka atau bagan
·     Menyebutkan kegiatan yang akan dilakukan berdasarkan isi perintah secara lisan/tertulis
·     Mengonfirmasikan kebenran rencana kegiatan yang telah direncanakan dengan rencana pemberi perintah
·     Jenis tes:
-     lisan
-     tulisan
-     perbuatan
·     Bentuk tes:
-     objektif
-      uraian
4
-
-
·     Nara sumber
·     Modul Bahsa Indonesia Tkt. Madia
·     Referensi yang Menunjang
2. 3    Memahami perintah kerja tertulis
·     Teks Perintah Kerja Tertulis (Surat Edaran, Pengumuman, Memo, Disposisi, Buku Manual Kerja)
·     Informasi mengenai kebiasaan peraturan atau budaya kerja yang berlaku di tempat bekerja
·     Kiat menyikapi perintah kerja yang maksudnya sama tetapi dirumuskan dalam bentuk dan redaksi yang berbeda
·     Membaca perintah kerja tertulis
·     Mengidentifikasi pokok perintah
·     Merencanakan tindak lanjut perintah berdasarkan catatan yang dibuat pada waktu membaca perintah kerja tertulis
·     Membuat bagan/ prosedur kerja berdasarkan perintah kerja tertulis
·     Mengonfirmasikan rencana kegiatan yang akan dilakukan (secar lisan/tulisan) kepada pemberi perintah
·     Merevisi rencana kegiatan sesuai arahan dari pemberi perintah
·     Mengenali informasi yang berkaitan dengan budaya kerja yang berlaku di tempat kerja
·     Merencanakan tindak lanjut perintah berdasarkan catatan yang dibuat pada waktu membaca informasi dari perintah kerja tertulis
·     Membuat bagan/ prosedur kerja berdasarkan perintah kerja tertulis
·     Mengonfirmasikan rencana kegiatan yang akan dilakukan (secar lisan/tulisan) kepada pemberi perintah
·     Jenis tes:
-     lisan
-     tulisan
-     perbuatan
·     Bentuk tes:
-     objektif
-     uraian
4
-
-
·     Modul B. Ind. tkt. Madia
·     Lamudin Finoza. (2002). Surat Menyurat Resmi Indonesia
·     Buku Manual Kerja
·     KBBI
·     Tim Depdiknas. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
2. 4    Membaca untuk memahami makna kata, bentuk kata, ungkapan, dan kalimat dalam konteks bekerja
·     Informasi mengenai hubungan antara makna kata, bentuk kata, dan pemakaian kata dalam konteks bekerja
·     Peran dan manfaat kamus dalm belajar bahasa dan dalam kehidupan berbahasa dan bernegara
·     Proses pembentukan kata baru
·     Relasi makna (sinonim, dan antonim), ungkapan idiomatik, dan bentuk kata

·     Membaca teks yang bertemakan “lingkungan kerja”
·     Mengelompokkan kata, bentuk kata, ungkapan, dan kalimat berdasarkan kelas kata dan makna kata
·     Mendaftar kata-kata yang berpotensi memiliki sinonim dan antonim dalam teks bacaan
·     Mengidentifikasi kata (termasuk bentuk kata baru), frasa, kalimat yang dipersoalkan kebenaran/ ketepatannya (diterima/ditolak) berdasarkan paradigma atau analogi
·     Mengidentifikasi kata, frasa, kalimat atau bentuk kata baru yang perlu dipersoalkan kebenarannya/ketepatannya (diterima/ditolak) beradsarkan kaidah atau kelaziman
·     Mengelompokkan kata, bentuk kata, ungkapan, dan kalimat berdasarkan kelas kata dan makna kata
·     Mendaftar kata-kata yang berpotensi memiliki sinonim dan antonim dalam teks bacaan
·     Mengidentifikasi kata (termasuk bentuk kata baru), frasa, kalimat yang dipersoalkan kebenaran/ ketepatannya (diterima/ditolak) berdasarkan paradigma atau analogi
·     Mengidentifikasi kata, frasa, kalimat atau bentuk kata baru yang perlu dipersoalkan kebenarannya/ketepatannya (diterima/ditolak) beradsarkan kaidah atau kelaziman
·     Jenis tes:
-     lisan
-     tulisan
-     perbuatan
·     Bentuk tes:
-     objektif
-     uraian
4
-
-
·     KBBI
·     Kamus Idiom, Kamus Sinonim-Antonim
·     Karya Sastra dalam bentuk yang beragam
·     Surat Kabar/Majalah
·     Lirik Lagu
·     Tarigan,H.G. (1985). Pengajaran Semantik.
2. 5    Menggunakan secara lisan kalimat tanya/ pertanyaan dalam konteks bekerja
·     Konsep kalimat tanya umum
·     Konsep dan ciri kalimat retorik
·     Dampak penggunaan kalimat retorik kepada mitra kerja
·     Konsep dan model kalimat tersamar
·     Kalimat tanya tersamar dalam kehidupan sehari-hari
·     Artikel yang mengandung ragam kalimat tanya
·     Menciptakan suatu dialog dalam konteks bekerja
·     Mengajukan pertanyaan yang sesuai dengan topik pembicaraan untuk menggali informasi secara santun
·     Mengajukan pertanyaan yang memerlukan jawaban ya atau tidak ,misalnya untuk memantapkan pemahaman (klarifikasi), meminta kepastian (konfirmasi)
·     Menggunakan pertanyaan retorik dengan menerapkan konsep dan ciri kalimat retorik
·     Mengajukan pertanyaan secara tersamar dengan kalimat tanya untuk tujuan selain bertanya, seperti: memohon, meminta, menyuruh, mengajak, merayu, menyindir, meyakinkan, menyetujui, atau menyanggah
·     Mengajukan pertanyaan yang sesuai dengan topik pembicaraan untuk menggali informasi secara santun
·     Mengajukan pertanyaan yang memerlukan jawaban ya atau tidak ,misalnya untuk memantapkan pemahaman (klarifikasi), meminta kepastian (konfirmasi)
·     Menggunakan pertanyaan retorik dengan menerapkan konsep dan ciri kalimat retorik
·     Mengajukan pertanyaan secara tersamar dengan kalimat tanya untuk tujuan selain bertanya, seperti: memohon, meminta, menyuruh, mengajak, merayu, menyindir, meyakinkan, menyetujui, atau menyanggah
·     Jenis tes:
-     lisan
-     tulisan
-     perbuatan
·     Bentuk tes:
-     objektif
-     uraian
4
-
-
·     Nara Sumber
·     Modul B. Ind. Tkt. Madia
·     Keraf,G. (1987). Tata Bahasa Indoensia Baru Bahasa Indonesia
2. 6    Membuat parafrasa lisan   dalam konteks bekerja
·      Pengertian parafrasa
·     Teknik menyusun parafrasa: menentukan kata kunci; menemukan ide pokok; menjelaskan sinonim kata kunci; menjelaskan makna kata metaforis/ungkapan lain dengan kata lain yang semakna; menggunakan ungkapan lain untuk maksud yang sama dari informasi yang didengar; menyusun kalimat dengan ungkapan sendiri
·     Pola penyajian ide: pola urutan/kronologis; pola sebab akibat; pola contoh; pola proses
·     Menyimak rekaman berita/artikel pendek yang dibacakan dengan cermat
·     Mencermati informasi dari sudut kata kunci, ide pokok, kata-kata metaforis/ungkapan
·     Menjelaskan kata-kata kunci, ide pokok, ungkapan/kata-kata yang bermakna metaforis secara kontekstual
·     Menyusun parafrase berdasarkan hal-hal di atas
·     Menyampaikan parafrase secara lisan dengan sikap yang santun di depan kelas
·     Memparafrasakan informasi secara lisan dari hal yang telah dibaca dengan menggunakan bahasa sendiri
·     Memparafrasakan informasi secara lisan dari hal yang sudah didengar dengan menggunakan bahasa sendiri

·     Jenis tes:
-     lisan
-     tulisan
-     perbuatan
·     Bentuk tes:
-     objektif
-      uraian
4
-
-
·     Modul B. Ind. Tkt. Madia
·     Rekaman berita
·     Artikel dari Surat Kabar
·     Nara Sumber
·     Akhadiah, S. (1994). Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia.
2. 7    Menerapkan pola gilir dalam berkomunikasi
·     Film/naskah drama/sinetron:Unsur intrinsik;peran dialog
·     Diskusi kelompok:sistem dan teknik diskusi; jenis diskusi; komponen (moderator, notulis, peserta, dan publik);pola gilir (tahap-tahap pembicaraan dalam diskusi)
·     Membagi kelas ke dalam kelompok-kelompok kecil
·     Masing-masing kelompok terbagi ke dalam kelompok diskusi dan pemeranan drama satu babak
·     Masing-masing kelompok membuat format penilaian pola gilir terhadap masing-masing tampilan kelompok diskusi dan pemeranan dalam drama
·     Masing-masing kelompok menampilkan konteks pola gilir yang mereka pahami
·     Menyimpulkan dan memberi penguatan terhadap hasil kelompok menerapkan pola gilir dalam berkomunikasi dalam bentuk komunikasi yng berbeda (drama dan diskusi kelompok)
·     Berkomunikasi dengan menggunakan kata, bentuk kata, dan ungkapan dengan santun
·     Memfaatkan pola gilir dalam berkomunikasi secara efektif
·     Jenis tes:
-     lisan
-     tulisan
-     perbuatan
·     Bentuk tes:
-     objektif
-      uraian
4
-
-
·     Kaset/VCD drama
·     Parera,J.D. (1988).Belajar Mengemukakan Pendapat
2. 8    Bercakap-cakap secara sopan dengan mitra bicara dalam konteks bekerja
·     Etika dan norma konversasi
·     Model ungkapan yang efektif
·     Kata/ungkapan yang bernuansa konflik
·     Membagi kelas atas kelompok-kelompok kecil
·     Merencanakan desain percakapan dengan konteks lingkungan kerja
·     Maisng-masing kelompok menunjukkan konteks percakapannya dengan menerapkan pola gilir dalam berkomunikasi dengan memanfaatkan kata, bentuk kata, dan ungkapan yang tepat sehingga terjamin kelangsungan dan kenyamanan komunikasi
·     Mengungkapkan gagasan, tanggapan, pendapat, dan penghargaan
·     Mengalihkan topik pembicaraan secara halus dengan menggunakan ungkapan yang tepat
·     Mengungkapkan gagasan, pendapat dan pandangan yang berbeda dengan tetap menjaga keberlangsungan dan kenyamanan berkomunikasi
·     Menggunakan kata atau ungkapan dalam memulai atau mengakhiri suatu pembicaraan baik formal maupun non-formal secara tepat dan efektif
·     Menerapkan pola gilir percakapan secara aktif untuk keperluan mengajukan pertanyaan, tanggapan, pendapat, atau menyatakan pernghargaan
·     Mengalihkan topik pembicaraan (topic switching) secara halus dengan menggunakan ungkapan yang tepat
·     Menyatakan pendapat yang berbeda tanpa menimbulkan konflik secara halus dan santun
·     Jenis tes:
-     lisan
-     tulisan
-     perbuatan
·     Bentuk tes:
-     objektif
-      uraian
6
-
-
·     Rekaman yang berisi model percakapan dalam konteks bekerja
·     Modul B. Ind. tkt. Madia
·     Parera,J.D. (1988). Belajar Mengemukakan Pendapat
2. 9    Berdiskusi yang bermakna dalam konteks bekerja
·     Teknik atau cara menyampaikan gagasan yng relevan
·     Ungkapan yang mendukung gagasan
·     Teknik atau cara menyampaikan gagasan yang berbeda atau menyanggah pendapat orang lain
·     Konsep dan teknik berargumentasi
·     Konsep dan teknik menyampaikan simpulan
·     Kelas dibagi atas dua kelompok (penyanggah dan pedukung)
·     Setiap kelompok diberikan permasalahan yang sama
·     Kelompok yang satu menyampkan gagasan yang relevan dengan menggunakan ungkapan yang tepat
·     Kelompok yang lain menyampaikan alasan, bukti yang bertentangan dengan pendapat kelompok sebelumnya
·     Mengomunikasikan argumentasi dan pernyataan penghargaan secara meyakinkan dan simpatik
·     Menyampaikan simpulan dengan tepat atas dasar fakta dan opini
·     Menyampaikan gagasan yang tepat dengan topik diskusi
·     Menyanggah  pendapat tanpa menimbulkan konflik dalam suatu forum diskusi dengan santun dan ekspresif
·     Menyampaikan argumentasi terhadap topikdiskusi yang dibicarakan
·     Menghargai mitra bicara yang menyampaikan argumen terhadp topik diskusi
·     Menyusun simpulan berdasarkan fakta, data, dan opini dengan tepat
·     Jenis tes:
-     lisan
-     tulisan
-     perbuatan
·     Bentuk tes:
-     objektif
-      uraian
6
-
-
·     Tarigan,H.G. (1984). Keterampilan Berbicara
·     Parera,J.D. (1988). Belajar Mengemukakan Pendapat
·     Modul B. Indonesia Tkt. Madia
2. 10  Bernegosiasi yang menghasilkan dalam konteks bekerja
·     Program kegiatan dari OSIS
·     Butir-butir yang harus diperhatikan dalam membahas suatu program kegiatan
·     Kiat yang efektif untuk menyanggah suatu program kegiatan
·     Kiat yang efektif untuk meyakinkan mitra bicara
·     Menelaah suatu program kegiatan OSIS
·     Membahas tentang isi kegiatan dengan cara menyampaikan pendapat dalam kalimat yang santun
·     Menyanggah gagasan atau pendapat secara rasional dan kritis dalam kalimat yang santun pada saat membahas program kegiatan
·     Mengemukakan pendapat dengan kalimat  yang baik
·     Menyampaikan argumentasi dengan daya nalar yang mampu meyakinkan mitra bicara
·     Mengemukakan gagasan, pendapat, atau komentar dalam kalimat yang menarik dan santun dengan memperhatikan butir-butir yang akan dibahas
·     Menyanggah pendapat orang lain dalam kalimat yang santun dengan tetap menghargai pendapat mitra bicara
·     Meyakinkan mitra bicara untuk menyetujui pendapat pembicara dengan sikap dan kalimat yang cermat, serta argumentasi yang rasional
·     Jenis tes:
-     lisan
-     tulisan
-     perbuatan
·     Bentuk tes:
-     objektif
-     uraian
4
-
-
·     Keraf.G. (1987). Argumentasi dan Narasi
·     Parera,J.D. (1988). Belajar Mengemukakan Pendapat
·     Modul B. Ind. Tkt. Madia
·     Mustakim. (1994). Membina Kemampuan Berbahasa
2. 11  Menyampaikan laporan atau presentasi lisan dalam konteks bekerja
·     Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam laporan lisan
·     Penanda urutan  waktu kejadian (kronologis)
·     Teknik membuat rangkuman/simpulan
·     Teks yang memuat laporan tentang sesuatu peristiwa atau keadaan
·     Mengamati suatu peristiwa dalam konteks bekerja
·     Mengidentifikasi kronologis, dan fakta yang berkenaan dengan peristiwa yang tengah diamati
·     Membuat kerangka laporan
·     Menyajikan laporan lisan secara santun dan jelas dalam bentuk tuturn deskriptif/naratif/ekspitoris
·     Menyajikan laporan lisan secara kronologis
·     Menyampaikan rangkuman atau simpulan yang akurat berdasarkan hasil nalisis/sintesis atau kategorisasi
·     Menyampaikan fakta (dalam tuturan deskriptif, nratif, ekspositoris) yang berkenaan dengan keadaan  atau peristiwa yang dilaporkan
·     Menyampaikan keadaan atau peristiwa secara kronologis (dalam tuturan deskriptif/naratif/ekspositoris) sesuai dengan tuntutan keadaan atau peristiwa yang dilaporkan secara lisan
·     Menyampaikan rangkuman (kategorisasi) atau simpulan (analisis/sintesis) dengan benar
·     Jenis tes:
-     lisan
-     tulisan
-     perbuatan
·     Bentuk tes:
-     objektif
-      uraian
6
-
-
·     Keraf.,G. (1987). Deskripsi dan Eksposisi
·     Keraf,G. (1987). Argumentasi dan Narasi
2. 12  Menulis wacana yang bercorak naratif, deskriptif, ekspositoris, dan argumentatif
·     Narasi:pengertian; ciri-ciri; unsur intrinsik; tahap penulisan; jenis & sifat
·     Deskripsi:pengertian; ciri-ciri; unsur pengindraan; tahap penulisan :jenis & sifat
·     Eksposisi: pengertian; ciri-ciri; unsur; tahap penulisan; jenis & sifat
·     Argumentasi: pengertian; logika/ nalar dalam argumentasi; ciri-ciri; unsur-unsur; tahap penulisan; jenis
·     Contoh paragraf dari keempat jenis karanagn di atas
·     Merumuskan judul/topik bahasan sesuai dengan jenis karangan yang ditentukan (narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi)
·     Menyusun kerangka karangan
·     Mengembangkan kerangka ke dalam paragraf yang utuh dan padu
·     Menyusun paragraf ke dalam wacana yang utuh sesuai dengan rambu-rambu jenis karangan teretntu yang menjadi pilihannya
·     Menulis suatu kejadian dalam bentuk narasi serta memuat unsur-unsur yang melingkupinya secara kronologis
·     Membuat deskripsi secara  dari gambar /bagan/tabel/ grafik/diagram/ matriks yang dilihat atau didengar sepanajng 150-200 kaja dalam waktu 30 menit
·     Membuat eksposisi dari suatu peristiwa
·     Menyusun argumentasi dengan tujuan untuk meyakinkan pembaca tentang suatu peristiwa kerja agar menerima suatu sikap dan opini secara logis
·     Jenis tes:
-     lisan
-     tulisan
-     perbuatan
·     Bentuk tes:
-     objektif
-      uraian
10
-
-
·     Lamuddin Finoza. (2004-2005). Komposisi Bahasa Indonesia
·     Keraf,G. (1987). Deskripsi dan Eksposisi.
·     Keraf,G. (1987). Argumentasi dan Narasi
·     Contoh teks narasi, deskripsi. eksposisi, dan argumentasi

2. 13  Meringkas teks tertulis dalam konteks bekerja

·     Contoh ringkasan yang berupa bagan (butir-butir saja)
·     Contoh ringkasan dalam bentuk teks
·     Teknik membuat bagan dan rangkuman
·     Bentuk bagan yang digunakan untuk ringkasan
·     Panduan/proses membuat ringkasan dari catatan butir-butir ke dalam bagan atau skema sampai kepada pengembangan ringkasan yang utuh
·     Membuat ringkasan yang singkat dan padat dalam bahasa yang lugas dan jelas berdasarkan bagan yang telah dibuat
·     Membaca dengan cermat contoh ringkasan dalam bentuk bagan/skema dan teks
·     Membedakan kedua bentuk itu dari sisi bentuk dan fungsi
·     Membuat suatu definisi ringkasan berdasarkan contoh yang diamati
·     Membaca teks yang diberikan
·     Menulis butir-butir ide pokok ke dalam bentuk bagan/skema
·     Membuat ringkasan secara utuh sesuai dengan persyaratan yang menjadi ketentuan
·     Mencatat butir-butir informasi yang akan diringkas dalam bentuk skema atau bagan dalam bahasa yang lugas dan jelas
·     Menghitung jumlah kalimat yang menjadi isi ringkasan sesuai dengan rumus meringkas yang baku
·     Menyusun ringkasan  teks secara jelas dalam bahasa yang baik dan benar
·     Jenis tes:
-     lisan
-     tulisan
-     perbuatan
·     Bentuk tes:
-     objektif
-      uraian
4
-
-
·     Soedarso.(2002). Membaca Cepat
·     Parera,J.D.  (1984). Menulis Tertib dan Sistematik
·     Akhadiah,S. (1988). Modul Menulis II.Jakarta: Universitas Terbuka.
2. 14  Menyimpulkan isi teks tertulis dalam konteks bekerja
·     Aspek nalar dalam menyusun simpulan: deduktif-induktif
·     Mengamati data yang disajikan, yakni berupa data nilai UAN pelajaran Bahasa Indonesia yang diperoleh siswa SMK yang bersnagkutan
·     Merumuskan secara tertulis simpulan terhadap data tersebut dengan cara induktif
·     Merumuskan secara tertulis simpulan terhadap data tersebut dengan cara deduktif
·     Mengevaluasi perbedaan dari kedua jenis simpulan yang telah disusun
·     Menyimpulkan suatu teks dengan menggunakan kalimat yang tidak ambigu, jelaas, lugas dan bernalar sesuai dengan informasi yang diperoleh
·     Jenis tes:
-     lisan
-     tulisan
-     perbuatan
·     Bentuk tes:
-     objektif
-      uraian
5
-
-
·     Akhadiah,S. (1994). Pembinaan Kemampuan Menulis Bahas Indonesia
·     Alwasilah,A.Ch. & Suzan, S. (2005). Pokoknya Menulis
·     Finoza,L. (2004-2005). Komposisi Bahasa Indonesia.
·     Modul B. Indonesia Tkt. Madia



E.     Arah Pengembangan
Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.

Tim Penyusun:
1.        Dalilatu                            41032121101084
2.        Desi                                  41032121101129
3.        Maman Suryaman            41032121101053
4.        Neng Riska                      41032121101130
5.        Putri                                 41032121101104
6.        Silmia                               41032121101096
7.        Widya                              41032121101085

Minggu, 13 Mei 2012

_Hanya sebatas kerinduan_


_Hanya sebatas kerinduan_

Aku rindu pada alam Mu
Ketika kabut itu menghilang
Terganti oleh hangatnya mentari
Ketika embun itu terasa sejuk di jemariku
Ketika malam itu hanya langitlah yang menjadi atapku

Aka rindu pada alam Mu
Ketika aku berbagi kisah dengannya (alamMu)
Ketika angin menggoyangkan rumput-rumput hijau itu
Ketika gemercik air berbunyi sangat merdu
Ketika alam itu bertasbih untuk Mu, Rabbi…

Aku rindu pada alam Mu
Ketika alam itu memberi  aku sesuatu yang sangat indah
Mengalir  hangat dibagian sudut sana (hatiku)
Ketika aku duduk termenung di atas batu itu
Menikmati indahnya alam Mu
Ketika nyanyian alam bersenandung nama Mu

Sungguh aku rindu pada alam Mu
Kosan, 23062011 pukul 06.25




_Kini Senja Itu Untuk Kita_


Senja, aku selalu menyukai mu

Senja itu, untukku selalu merah merona

Jingga dia berwarna


kadang memang kau terlihat murung kelabu

tapi untukku selalu ada senyum disenja itu...


Kini senja itu selalu memukau

dalam pandanganku,

tidak hanya sekedar merah merona, jingga, kelabu....

senja itu kini selalu membuatku bahagia

penuh syukur pada Nya


Kini senja itu untuk kita

ketika jari-jemari itu saling menggenggam

senyum tulus mengandung arti

tatapan penuh cinta

ketika syukur menjadi Do'a


Senja itu kini umtuk mu dan untuk ku


Terimakasih banyak Robbi......

untuk setiap senja yang Kau berikan


Thank for you Aya

Padasuka, 22092011

_senja dikala aku menantimu_

Selasa, 08 Mei 2012

Guru Baik Vs Guru Hebat

Menurut Nuh, “Guru yang baik akan menjelaskan sesuatu kepada muridnya sehingga paham, tetapi guru yang hebat adalah guru yang mampu menginspirasi dan memotivasi muridnya, sehingga mampu berbuat sesuatu yang baik dengan kemampuannya sendiri“.


SOAL1. Identifikasilah:
    a) ciri-ciri guru yang baik;
    b) ciri-ciri guru yang hebat.


2. Jika diwajibkan memilih, apakah Anda akan berupaya untuk menjadi 

    "guru yang baik" ataukah ingin menjadi "guru yang hebat"? Mengapa 
    demikian? Tulislah minimal tiga alasan yang mendasari pilihan Anda itu.

3. Bagaimanakah profil ideal guru Bahasa Indonesia di era globalisasi ini?
    Jelaskanlah menurut sudut pandang Anda masing-masing.

4. Adakah manfaat yang Anda peroleh setelah membaca wacana itu?
    Jika ada, tulislah semua manfaat yang dapat Anda petik darinya.

Jawaban ditulis dalam blog Anda masing-masing, paling lambat dua hari.
sebelum tatap muka selanjutnya.

A. Ciri-Ciri Guru Baik

1. Selalu punya energi untuk siswanya
Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.
2. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran
Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.
3. Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa  mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.
4. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif,  membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.

5. Bisa berkomunikasi dengan Baik Orang Tua
Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi  panggilan telepon, rapat, email dan sekarang, twitter.
6. Punya harapan yang tinggi pada siswa nya
Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.
7. Pengetahuan tentang Kurikulum
Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga  memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu.
8. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan
Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif.
9. Selalu memberikan yang terbaik  untuk Anak-anak dan proses Pengajaran
Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan  mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa.
10. Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa
Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya.

B. Ciri-Ciri Guru Hebat

Kalau berkata tentang guru, ada ribuan yang dapat diceritakan tentang keguruan. Namun, kalau berbicara guru hebat, hanya segelintir orang yang memenuhi persyaratan. Guru biasa sangat banyak. Guru baik hanya sedikit. Kemudian, guru hebat ya hanya segelintir orang saja.
Kata bijak menyebutkan bahwa guru biasa menjelaskan, guru baik mendemonstrasikan, dan guru hebat menginspirasikan. Oleh karena itu, sekali menjadi guru, ya jadilah guru hebat. Guru hebat adalah guru yang mampu membenamkan konsep keilmuan di memori siswa secara mendalam, membekas, dan dibawa siswa sampai kapan pun. Inspirasi siswa berkembang dengan kreatif dan inovatif karena didasari oleh konsep yang diterima oleh guru. Lalu, bagaimana ciri guru hebat itu?

Ciri guru hebat sebagai berikut
1. Ucapan dan intonasinya jelas dan mudah dipahami. Siswa langsung menyerap makna dari ucapan guru tanpa harus berpikir lama dan berputar-putar. Ucapan guru tersistem, mantap, dan berterima dengan kejiwaan siswa.
2. Bobot keilmuannya sangat dalam dan luas. Sehari-hari, guru hebat mengikuti perkembangan zaman untuk memupuk keluasan keilmuannya. Tren zaman dapat cepat dimaknai oleh guru lalu diolah dengan bahasa guru untuk disajikan ke siswanya.
3. Orangnya lugas dan sederhana. Karena yang dihadapi adalah siswa bukan orang dewasa, guru hebat selalu menyampaikan keilmuannya dengan lugas dan mudah diterima siswanya.
4. Bersahabat dan peduli. Guru biasa selalu mengambil jarak dengan siswa karena menurutnya wibawa guru akan terbangun. Namun, tidak untuk guru hebat. Guru hebat bersahabat dengan siswanya sehingga terbangun kedekatan yang akan mempermudah berkomunikasi. Wibawa justru dibangun dari persahabatan antara siswa dengan guru.
5. Kaya metode dan media. Guru hebat teramat paham kalau siswa itu mudah jenuh, dinamis, dan kreatif. Menurutnya, mengajar harus menyenangkan, dinamis, dan kreatif. Jalan yang harus ditempuh adalah menerapkan pembelajaran dengan multimetode dan multimedia yang sesuai dengan keinginan siswa.

C. Andai Aku Memilih Guru Baik atau Guru Hebat
Kalau saya harus memilih dari kedua ciri guru tersebut diatas, maka saya akan pilih menjadi guru yang hebat, mengapa demikian ?
1). Menjadi guru bukan hanya soal mengajarkan materi, tetapi ada hal lain yang lebih penting yaitu menjadikan dirinya suritauladan yang baik sehingga mampu menjadi inspirasi bagi anak didiknya dalam bersikap secara bijak dan mampu mengamalkan apa yang diajarkan dengan melihat role model dari gurunya sendiri.
2). Guru hebat dengan keilmuannya yang mendalam mampu memberikan bimbingan dan pelatihan kepada siswa untuk benar-benar mampu menghadapi zaman yang terus bergerak dengan cepat.
3). Guru hebat dengan kreatifitasnya dan kedinamisannya mampu memanfaatkan berbagai pasilitas multimedia dan multimetode sehingga menunjang kepada keberhasilan peserta didik.  
4). Guru hebat mampu membangun komunikasi interaktif antara guru, siswa, sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk mencapai tujuan pendidikan secara sinergi. 

D. Profil Ideal Guru Bahasa Indonesia di Era Globalisasi 
Profil ideal guru Bahasa Indonesia di era globalisasi ini yaitu:
1. Berjiwa besar dan mampu berfikir luas dan jauh ke depan untuk memenangkan kompetisi pada era globalisasi saat ini.
2. Bekerja secara profesional dalam bidangnya sebagai Guru Bahasa Indonesia.
3. Guru harus kreatif, inovatif, komunikatif, dan dinamis dalam pembelajaran  dengan multimetode dan multimedia sesuai kebutuhan siswa.
4.  Guru harus mampu mengispirasi peserta didik untuk bisa menulis apa yang mereka dapatkan untuk terus dikembangkan menjadi hasil karya yang sangat besar dan bermanfaat bagi masyarakat.
5. Guru harus peka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.


E. Manfaat dari Wacana Guru Baik Vs Guru hebat
1. Membuka wawasan dan pemahaman terhadap ciri-ciri guru  baik dan guru hebat.
2. Sebagai perbandingan diri dengan profil ideal Guru Bahasa Indonesia di era globalisasi ini.
3. Memotivasi untuk terus menggali potensi untuk mencapai guru yang profesional.
4. Bisa evalusi diri untuk menjadi guru yang lebih baik lagi.
5. Terstimulus untuk mecapai prestasi sebagai guru hebat.
6. Tersadar untuk lebih siap menjadi guru yang lintas zaman.