Sabtu, 14 Juli 2012

Kajian Intrinsik “Salawat Dedaunan” Karya Yanusa Nugroho


ANALISIS UNSUR INTRINSIK
CERPEN “SALAWAT DEDAUNAN
KARYA YANUSA NUGROHO

Diajukan sebagai salah satu tugas mata kuliah kajian prosa fiksi Indonesia
 yang diampu oleh Ibu Isna Sulatri, Dra..



Disusun oleh
Maman Suryaman
41032121101053













/
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN  SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (FKIP)
UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
BANDUNG 2012




KATA PENGANTAR
           

Segala puji dan syukur bagi Allah semata, Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Berilmu. Maha Suci Allah yang telah menjadikan semua yang ada di dunia ini sebagai tempat untuk belajar dan ujian bagi orang-orang yang bersabar dan bertawakal hanya kepada Allah. Sungguh, semua atas izin dan kehendak Allah. Berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya serta memberikan penulis kekuatan, ketabahan, kemudahan, dan kedamaian berpikir dalam menyelesaikan Makalah yang berjudul Analisis Unsur Intrinsik Cerpen Salawat Dedaunankarya Yanusa Nugroho”. Makalah ini disusun dari hasil kajian guna memenuhi tugas individu Mata Kuliah Kajian Prosa-Fiksi Indonesia.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun Makalah ini mengalami banyak
kesulitan dan hambatan. Namun berkat bantuan, arahan, dorongan serta bimbingan dari berbagai pihak, kesulitan dan hambatan tersebut dapat terlewati.
Semoga dengan terselesaikannya Makalah ini dapat bermanfaat serta dapat menambah wawasan, khususnya bagi Penulis dan umumnya bagi seluruh pihak yang memerlukan.


           Bandung, 12 Juli 2012
           Penulis









DAFTAR ISI


                                                                                                                             halaman
KATA PENGANTAR ....................................................................................... i
DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1
A.    Latar Belakang  ....................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah.................................................................................... 2
C.     Tujuan Penulisan...................................................................................... 2


BAB II PEMBAHASAN ................................................................................... 3
A.    Sinopsis ................................................................................................... 3
B.     Tinjauan atas Unsur Intrinsik .................................................................. 4
1.      Tema ................................................................................................. 4
2.      Amanat ............................................................................................. 5
3.      Latar ................................................................................................. 7
4.      Alur ................................................................................................... 9
5.      Tokoh dan Penokohan ...................................................................... 11
6.      Gaya Bahasa ..................................................................................... 14

BAB III PENUTUP ........................................................................................... 16
Kesimpulan .............................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 17





BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Perkembangan dunia sastra dari sejak awal kemunculan sampai saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Setiap karya sastra memiliki ciri dan latar belakang yang berbeda setiap periodenya. Cerpen salah satunya karya sastra yang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Cerpen merupakan bentuk karya sastra imajinatif yang tergolong kedalam prosa-fiksi.  
Sebagai salah satu bentuk karya sastra, cerita pendek (cerpen) ternyata dapat memberikan manfaat kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengganti, kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Pengalaman yang universal itu tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia serta kemanusiaan. Ia bisa berupa masalah perkawinan, percintaan, tradisi, agama, persahabatan, sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya. Jadi tidaklah mengherankan jika seseorang pembaca cerpen, maka sepertinya orang yang membacanya itu sedang melihat miniatur kehidupan manusia dan merasa sangat dekat dengan permasalahan yang ada di dalamnya. Akibatnya, si pembacanya itu ikut larut dalam alur dan permasalahan cerita. Bahkan sering pula perasaan dan pikirannya dipermainkan oleh permasalahan cerita yang dibacanya itu. Ketika itulah si pembacanya itu akan tertawa, sedih, bahagia, kecewa, marah , dan mungkin saja akan memuja sang tokoh atau membencinya.
Melihat gambaran kenyataannya seperti itu, maka jelaslah bahwa sastra (cerpen) telah berperan sebagai pemekat, sebagai karikatur dari kenyataan, dan sebagai pengalaman kehidupan, seperti yang diungkapakan Saini K.M. (1989:49).
Tidak hanya itu, kiranya cerpen dengan segala permasalahannya yang universal itu ternyata menarik juga untuk dikaji. Bahkan tidak pernah berhenti orang yang akan mengkajinya. Seperti halnya kami mencoba mengkaji cerpen sebagai bahan kajian prosa-fiksi di kelas. Cerpen yang kami kaji itu adalah sebuah cerpen yang berjudul “Salawat Dedaunan” karya Yanusa Nugroho.
Kajian ini di harapkan dapat memberikan solusi dalam upaya memahami, menambah keterampian dan referensi bahan sebagai persiapan menjadi guru yang professional.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, saya mencoba mengidentifikasi masalah sayaan ini. Identifikasi masalahnya sebagai berikut:
1.      Bagaimana unsur intrinsik cerpen cerpen “Salawat Dedaunan” karya Yanusa Nugroho?
2.      Faktor apakah yang membuat cerpen tersebut diakui sebagai salah satu cerpen popular Kompas 2011?
3.      Nilai didaktis apa yang dapat diambil dari cerpen Salawat Dedaunankarya Yanusa Nugroho ini?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a.       Sebagai tugas mata kuliah Kajian Prosa-Fiksi di Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Bandung, semester 4 tahun ajaran 2011/2012.
b.      Memaparkan analisis intrinsik cerpen “Salawat Dedaunan sebagai proses pembelajaran dalam mata kuiah kajian prosa-fiksi.









BAB II
PEMBAHASAN


A.    Sinopsis
Cerita cerpen ini mengisahkan tentang seorang Haji Brahim yang risaukan kemakmuran Mesjid yang dipimpinnya. Sejak, mungkin, 30 tahun lalu dia dipercaya untuk menjadi ketua masjid, keadaan tidak berubah. Bahkan, setiap Jumat, jumlah jemaah, paling banyak 45 orang. Pernah terpikirkan untuk memperluas bangunan, tetapi dana tak pernah cukup. Mencari sumbangan tidak mudah, dan Haji Brahim tak mengizinkan pengurus mencari sumbangan di jalan raya sebagaimana dilakukan banyak orang. “Seperti pengemis saja…,” gumamnya. Seiring dengan berjalannya waktu, maka pikiran untuk memperluas bangunan itu tinggal sebagai impian saja. Kas masjid nyaris berdebu karena kosong melompong. Dan itu pula sebabnya masjid itu tak bisa memasang listrik, cukup dengan lampu minyak.
Suatu siang, seusai shalat Jumat, ketika orang-orang sudah lenyap semua entah ke mana, Haji Brahim dan dua pengurus lainnya masih duduk bersila di lantai masjid. Sesaat ketika kedua orang itu akan berdiri, di halaman dilihatnya ada seorang nenek tua tengah menyapu pandang. Haji Brahim pun menoleh dan dilihatnya nenek itu dengan badan bungkuk, tertatih mendekat.
“Alaikum salam…, Nek,” jawab salah seorang pengurus, sambil mengangsurkan uang 500-an.
Tapi si nenek diam saja. Memandangi si pemberi uang dengan pandangannya yang tua.
“Ada apa?” tanya Haji Brahim, seraya mendekat.
“Saya tidak perlu uang. Saya perlu jalan ampunan.”
Dari bibirnya tergumam kalimat permintaan ampun dan sanjungan kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Pada setiap helai yang dipungut dan ditatapnya sesaat dia menggumamkan, “Gusti, mugi paringa aksama. Paringa kanugrahan dateng Kanjeng Nabi.” Sebelum dimasukkannya ke kantong plastik.
Haji Brahim tergetar oleh kepolosan dan keluguan si nenek. Di matanya, si nenek seperti ingin bersaksi di hadapan ribuan dedaunan bahwa dirinya sedang mencari jalan pengampunan.
Hari bergulir ke Magrib. Dan si nenek masih saja di tempat semula, nyaris tak beranjak, memunguti dedaunan yang selalu saja berguguran di halaman. Tubuh tuanya yang kusut basah oleh keringat. Napasnya terengah-engah.
Dua hari kemudian, tepat ketika kumandang waktu Ashar terdengar, si nenek tersungkur dan meninggal. Orang-orang terpekik, ada yang mencoba membawanya ke puskesmas, tetapi entah mengapa tak jadi.
Sejak kedatangan si nenek mesjid menjadi semarak. Entah apa yang terjadi Haji Brahim tercekat. Dia tiba-tiba merasa sunyi menyergapnya. Dia menyapu pandang, ada yang aneh di matanya. Dedaunan yang berserak itu lenyap. Halaman masjid bersih. Menghitam subur tanahnya, seperti disapu, dan daun yang gugur ditahan oleh jaring raksasa hingga tak mencapai tanah.

B.     Tinjauan atas Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur dalam yang membentuk penciptaan karya sastra. Unsur ini berupa tema, amanat, latar, alur, tokoh dan penokohan, dan gaya bahasa. Unsur yang terdapat dalam cerpen “Salawat Dedaunan” karya Yanusa Nugroho itu sebagai berikut:
1.      Tema
Pengarang yang sedang menulis cerita pasti akan menuangkan gagasannya. Tanpa gagasan pasti dia tidak bisa menulis cerita. Gagasan yang mendasari cerita yang dibuatnya itulah yang disebut tema dan gagasan seperti ini selalu berupa pokok bahasan.
Tema atau pokok persoalan cerpen “Salawat Dedaunan”, sesungguhnya terletak pada persoalan Haji Brahim yang risau akan kemakmuran mesjid yang dipimpinnya. Berikut kutipannnya:
“Namun, masjid ini sepi. Terutama jika siang hari. Subuh ada lima orang berjemaah, itu pun pengurus semua. Maghrib, masih lumayan, bisa mencapai dua saf. Isya… hanya paling banyak lima orang. Begitu setiap hari, entah sejak kapan dan akan sampai kapan hal itu berlangsung.
“Bagi Haji Brahim, keadaan itu merisaukannya. Sejak, mungkin, 30 tahun lalu dia dipercaya untuk menjadi ketua masjid, keadaan tidak berubah. Bahkan, setiap Jumat, jumlah jemaah, paling banyak 45 orang”.

Dengan demikian, kesimpulan atas fakta-fakta di atas maka tema cerpen ini adalah tentang keagamaan.
Tema cerpen ini bersifat universal, memberikan gambaran pengalaman pada pembaca akan kurangnya kesadaran masyarakat akan kemakmuran mesjid. Begitu besar perhatian masyarakat terhadap pembangunan Mesjid, tetapi sangat kecil perhatian akan kemakmuran Mesjid yang mereka bangun. Pesan kritik membangun terhadap masyarakat ini menjadikan cerpen “Salawat Dedaunan” karya Yanusa Nugroho menjadi salah satu cerpen populer Kompas 2011.

2.      Amanat
Di dalam sebuah cerita, gagasan atau pokok persoalan dituangkan sedemikian rupa oleh pengarangnya sehingga gagasan itu mendasari seluuh cerita. Gagasan yang mendasari seluruh cerita ini dipertegas oleh pengarangnya melalui solusi bagi pokok persoalan itu. Dengan kata lain solusi yang dimunculkan pengaranngnya itu dimaksudkan untuk memecahkan pokok persoalan, yang didalamnya akan terlibat pandangan hidup dan cita-cita pengarang. Hal inilah yang dimaksudkan dengan amanat. Dengan demikian, amanat merupakan keinginan pengarang untuk menyampaikan pesan atau nasihat kepada pembacanya.
Jadi amanat pokok yang terdapat dalam cerpen “Salawat Dedaunankarya Yanusa Nugroho adalah “pentingnya memakmurkan Mesjid”. Hal ini terdapat pada paragraf keempat dan kelima. Amanat pokok / utama ini kemudian diperjelas atau diuraikan dalam ceritanya. Akibatnya muncullah amanat-amanat lain yang mempertegas amanat utama itu. Amanat-amanat yang dimaksud itu di antaranya:
(a)    Amanat ini dimunculkan melalui kerisauan Haji Brahim terhadap kemakmuran mesjid yang dipimpinnya selama puluhan tahun.
“……masjid ini memang dipayungi trembesi. Cantik sekali.
Namun, masjid ini sepi. Terutama jika siang hari. Subuh ada lima orang berjemaah, itu pun pengurus semua. Maghrib, masih lumayan, bisa mencapai dua saf. Isya… hanya paling banyak lima orang. Begitu setiap hari, entah sejak kapan dan akan sampai kapan hal itu berlangsung.
Bagi Haji Brahim, keadaan itu merisaukannya. Sejak, mungkin, 30 tahun lalu dia dipercaya untuk menjadi ketua masjid, keadaan tidak berubah. Bahkan, setiap Jumat, jumlah jemaah, paling banyak 45 orang”.

Selain Haji Brahim ada juga seorang Nenek yang bertekad untuk memakmurkan mesjid, walau hanya dengan sekedar membersihkan halaman mesjid yang dianggabnya sebagai jalan pertobatan atas dosa yang dilakukannnya.
“Saya tidak perlu uang. Saya perlu jalan ampunan.”

“Adakah yang lebih melelahkan daripada menanggung dosa?” ujar si nenek seperti bergumam.

“…….,dia kemudian memungut daun yang tergeletak di halaman. Daun itu dipungutnya dengan kesungguhan, lalu dimasukkannya ke kantong plastik lusuh, yang tadi dilipat dan diselipkan di setagen yang melilit pinggangnya. Setelah memasukkan daun itu ke kantong plastik, tangannya kembali memungut daun berikutnya. Dan berikutnya. Dan berikutnya….”

(b)   Infakkan lah sebagian harta kita untuk membela Agama Allah dengan memakmurkan Mesjid lewat pembangunan sarana dan prasarana.
“……Pernah terpikirkan untuk memperluas bangunan, tetapi dana tak pernah cukup”.

“……Seiring dengan berjalannya waktu, maka pikiran untuk memperluas bangunan itu tinggal sebagai impian saja. Kas masjid nyaris berdebu karena kosong melompong. Dan itu pula sebabnya masjid itu tak bisa memasang listrik, cukup dengan lampu minyak”

(c)    Jagalah harga diri seorang muslim dalam berikhtiar membangun sarana dan prasarana Ibadah untuk kepentingan Umat dan Agama.
“.......Mencari sumbangan tidak mudah, dan Haji Brahim tak mengizinkan pengurus mencari sumbangan di jalan raya—sebagaimana dilakukan banyak orang. “Seperti pengemis saja…,” gumamnya.

(d)   Perbanyak lah istigfar untuk membersihkan diri dari perbuatan dosa dan bersholawatlah untuk Nabi Muhammad SAW.
“Saya tidak perlu uang. Saya perlu jalan ampunan.”

“Dari bibirnya tergumam kalimat permintaan ampun dan sanjungan kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Pada setiap helai yang dipungut dan ditatapnya sesaat dia menggumamkan, “Gusti, mugi paringa aksama. Paringa kanugrahan dateng Kanjeng Nabi.” Sebelum dimasukkannya ke kantong plastik.

Dan akhirnya amanat (a) menjadi kunci amanat yang diinginkan pengarang untuk pembacanya. Amanat itu kemudian dirumuskan, seperti yang sudah dituliskan pada bagian awal tentang amanat di atas.

3.      Latar
Dalam suatu cerita latar dibentuk melalui segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Latar ini ada tiga macam, yaitu: latar tempat; latar waktu; dan latar sosial.
1)      Latar Tempat
Latar jenis ini biasa disebut latar fisik. Latar ini dapat berupa daerah, bangunan, kapal, sekolah, kampus, hutan, dan sejenisnya. Latar tempat yang ada dalam cerpen ini berada di dalam dan disekitar halaman Mesjid di bawah pohon trembesi. Berikut kutipannnya:
“Suatu siang, seusai shalat Jumat, ketika orang-orang sudah lenyap semua entah ke mana, Haji Brahim dan dua pengurus lainnya masih duduk bersila di lantai masjid. Haji Brahim masih berzikir sementara dua orang itu tengah menghitung uang amal yang masuk hari itu”.

“Sesaat ketika kedua orang itu akan berdiri, di halaman dilihatnya ada seorang nenek tua tengah menyapu pandang”.

“Tanpa berkata apa pun, dia kemudian memungut daun yang tergeletak di halaman….”.

“Dan di hadapan bangunan masjid itu tumbuh pohon trembesi yang cukup besar”.

“Begitu besarnya pohon trembesi itu, dengan dahan dan cabangnya yang menjulur ke segala arah, membentuk semacam payung, membuat kita pun akan berpikir, masjid ini memang dipayungi trembesi”.

Selain di Mesjid kejadian ini berlangsung juga di Puskesmas. Berikut kutipannnya:
“Orang-orang terpekik, ada yang mencoba membawanya ke puskesmas,….”
            Kejadian periristiwa ini berada di daerah betawi. Hal ini dapat kita lihat dari penggunaan bahasa “Ji” yang mencirikan bahasa betawi. Berikut kutipannnya:
“Memangnya bisa begitu, Ji?”

2)      Latar Waktu
Latar waktu dalam cerpen ini dapat kita lihat dalam beberapa paparan sebagai berikut:
“Namun, masjid ini sepi. Terutama jika siang hari. Subuh ada lima orang berjemaah, itu pun pengurus semua. Maghrib, masih lumayan, bisa mencapai dua saf. Isya… hanya paling banyak lima orang. Begitu setiap hari, entah sejak kapan dan akan sampai kapan hal itu berlangsung”.

“Bahkan, setiap Jumat, jumlah jemaah, paling banyak 45 orang”.

Suatu siang, seusai shalat Jumat, ketika orang-orang sudah lenyap semua entah ke mana,…”
“Hari bergulir ke Magrib”.

Ketika maghrib tiba, dan orang-orang melakukan sembahyang, si nenek masih saja memunguti dedaunan.

Malam itu, Haji Brahim pulang cukup larut karena merasa tak tega meninggalkan si nenek. Pengurus masjid yang semula akan menunggui, sepulang Haji Brahim, ternyata juga tak tahan. Bahkan, belum lagi lima menit Haji Brahim pergi, dia diam-diam pulang.

“Tak ada yang tahu apakah si nenek tertidur atau terjaga malam itu. Begitu subuh tiba, Mijo yang akan azan Subuh mendapati si nenek masih saja melakukan gerakan yang sama. Udara begitu dingin. Beberapa kali si nenek terbatuk.

“….tetapi begitu bertepatan waktu shalat masuk, mereka melakukan shalat berjemaah”.

“Dua hari kemudian, tepat ketika kumandang waktu Ashar terdengar, si nenek tersungkur dan meninggal.

3)      Latar Sosial
Di dalam latar ini umumnya menggambarkan keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, kebiasaannya, cara hidup, dan bahasa. Di dalam cerpen ini latar sosial digambarkan sebagai berikut :
“Namun, masjid ini sepi. Terutama jika siang hari. Subuh ada lima orang berjemaah, itu pun pengurus semua. Maghrib, masih lumayan, bisa mencapai dua saf. Isya… hanya paling banyak lima orang. Begitu setiap hari, entah sejak kapan dan akan sampai kapan hal itu berlangsung”.

Latar social ini menggambarkan kehidupan masyarakat yang jarang  Sholat berjamaah di Mesjid.
“Pernah terpikirkan untuk memperluas bangunan, tetapi dana tak pernah cukup. Mencari sumbangan tidak mudah, dan Haji Brahim tak mengizinkan pengurus mencari sumbangan di jalan raya—sebagaimana dilakukan banyak orang. “Seperti pengemis saja…,” gumamnya.
           
Latar sosial ini menggambarkan kelompok pengurus DKM ini sangat menjaga sekali kehormatan dan nama baik Agama. Walau membutuhkan dana, tapi tidak mengemis untuk meminta subangan di jalan-jalan.

4.      Alur (plot)
Alur menurut Suminto A. Sayuti (2000:31) diartikan sebagai peristiwa-peristiwa yang diceritakan dengan panjang lebar dalam suatu rangkaian tertentu dan berdasarkan hubungan-hubungan konsolitas itu memiliki struktur. Strukturnya itu terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Didalam cerpen ini, struktur plot itu dapat diuraikan seperti berikut:
Bagian Awal
Struktur awal terdiri dari paparan, rangsangan, dan gawatan. Pada bagian awal cerita ini penulis memaparkan gambaran situasi dan kondis sebagai pijakan awal dimuainya cerita. Situasi yang di gambarkan merupakan sebuah rangsangan untuk pengenalan masalah dalam cerita ini. Kemudian setelah pengenalan masalah tersebut, dibuat konflik yang membuat jalan cerita ini menjadi menarik. Untuk lebih jelas, berikut pemaparannya:
“MASJID itu hanyalah sebuah bangunan kecil saja. Namun, jika kau memperhatikan, kau akan segera tahu usia bangunan itu sudah sangat tua. Temboknya tebal, jendelanya tak berdaun hanya lubang segi empat dengan lengkungan di bagian atasnya. Begitu juga pintunya, tak berdaun pintu. Lantainya menggunakan keramik putih kuduga itu baru kemudian dipasang, karena modelnya masih bisa dijumpai di toko-toko material.
Masjid itu kecil saja, mungkin hanya bisa menampung sekitar 50 orang berjemaah”.
Berdasarkan kutipan cerpen di atas pada bagian awal ini penulis memaparkan kondisi lingkungan yang terjadi dalam cerpen tersebut. Dari paparan ini penulis memberikan rangsangan jalan cerita menuju konflik dalam cerpen ini yang ditandai dengan reaksi tokoh dalam menyikapi situasi ini merasa risau. Berikut kutipannya:
“Namun, halaman masjid itu cukup luas. Dan di hadapan bangunan masjid itu tumbuh pohon trembesi yang cukup besar. Mungkin saja usianya sudah ratusan tahun”.

“….masjid ini memang dipayungi trembesi. Cantik sekali.
Namun, masjid ini sepi. Terutama jika siang hari. Subuh ada lima orang berjemaah, itu pun pengurus semua. Maghrib, masih lumayan, bisa mencapai dua saf. Isya… hanya paling banyak lima orang. Begitu setiap hari, entah sejak kapan dan akan sampai kapan hal itu berlangsung.
Bagi Haji Brahim, keadaan itu merisaukannya. Sejak, mungkin, 30 tahun lalu dia dipercaya untuk menjadi ketua masjid, keadaan tidak berubah”.

Bagian Tengah
Struktur tengah terdapat klimaks. Pada bagian tengah ini permasalahan/ konflik yang terjadi mengaami puncak masalah. Klimaks, digambarkan ketika kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kemakmuran mesjid tersebut, sampai kas mesjid kosong, halaman mesjid ribun oleh dedaunan yang berguguran dan listrik pun tidak ada.  
“Pernah terpikirkan untuk memperluas bangunan, tetapi dana tak pernah cukup. Mencari sumbangan tidak mudah, dan Haji Brahim tak mengizinkan pengurus mencari sumbangan di jalan raya sebagaimana dilakukan banyak orang. “Seperti pengemis saja…,” gumamnya. Seiring dengan berjalannya waktu, maka pikiran untuk memperluas bangunan itu tinggal sebagai impian saja. Kas masjid nyaris berdebu karena kosong melompong. Dan itu pula sebabnya masjid itu tak bisa memasang listrik, cukup dengan lampu minyak.

“Daun-daun trembesi berguguran setiap hari, seperti taburan bunga para peziarah makam…”.

“….Jelas tak ada orang yang secara khusus menyapu halaman setiap hari.
“Terlalu luas untuk sebuah pekerjaan gratisan…”

Bagian Akhir
Struktur akhir terdiri dari laraian dan selesaian. Bagian terakhir cerita ini ternyata pengarang memberikan penyelesaian konflik lewat tokoh seorang nenek yang memungut daun-daun yang berserakan di halaman mesjid. Sikap tokoh ini ternyata membuat perhatian masyarakat, dan berduyun-duyun pergi kemesjid untuk meleraikan kepenasarannnya. Namun tanpa disengaja mesjid pun menjadi ramai. Setelah kepergian si nenek mesjid itu pun menjadi makmur. Untuk lebih jelas berikut kutipannya:
Peristiwa si nenek itu ternyata mengundang perhatian banyak orang. Mereka berdatangan ke masjid. Niat mereka mungkin ingin menyaksikan si nenek, tetapi begitu bertepatan waktu shalat masuk, mereka melakukan shalat berjemaah. Tanpa mereka sadari sepenuhnya, masjid itu jadi semarak. Orang datang berduyun-duyun, membawa makanan untuk si nenek, atau sekadar memberinya minum. Dan, semuanya selalu berjemaah di masjid”.

“….Dedaunan yang berserak itu lenyap. Halaman masjid bersih. Menghitam subur tanahnya, seperti disapu, dan daun yang gugur ditahan oleh jaring raksasa hingga tak mencapai tanah”.

Jika struktur alurnya seperti di atas maka alur cerpen ini dikelompokkan ke dalam alur maju. Dikatakan demikian karena cerita cerpen ini terus maju alurnya dari awal sampai akhir. 

5.      Tokoh dan Penokohan
Yang dimaksud dengan tokoh adalah lakon atau pemain yang ada dalam cerita. Keberadaan tokoh bisa berperan secara aktif ataupun pasif dalam sebuah cerita. penokohan yakni bagaimana pengarang menampilkan perilaku tokoh-tokohnya berikut wataknya. Yanusa Nugroho menampilkan tokoh-tokohnya sebagai berikut:
a.      Tokoh aku
Tokoh ini begitu berperan dalam cerpen ini. Dari mulutnya kita bisa mendengar kisah Haji Brahim yang berjuang memakmurkan mesjidnya. Tokoh ini walau pun tidak dimunculkan oleh pengarang, sebagai penjelmaan wujud dirinya, tetapi keberadaannya sangat terasa lewat pemaparan ceritanya yang seolah-olah tokoh aku ini bercerita tentang kisah orang lain. Dalam penggalan cerpen ini juga, pengarang sangat jelas memposisikan dirinya sebagi orang pertama dalam cerpen ini. Hal ini dapat kita lihat pada kutipan berikut:
“…..jika kau memperhatikan, kau akan segera tahu usia bangunan itu sudah sangat tua”.
“…..Lantainya menggunakan keramik putih kuduga itu baru kemudian dipasang, karena modelnya masih bisa dijumpai di toko-toko material”.
Aku terdiam. Kubayangkan dedaunan itu, yang jumlahnya mungkin ribuan helai itu, melayang ke hadirat Allah, membawa goresan permohonan ampun.

b.      Tokoh Haji Brahim
Tokoh ini merupakan tokoh utama yang menjadi sentral semua jalan cerita. Hal ini dapat kita lihat dari pengisahan yang dibuat pengarang dengan jelas menceritakan tentang perjuangan Haji Brahim untuk memakmurkan mesjidnya. Pengarang mendeskripsikan perwatakan tokoh ini sebagai berikut:
1)      Risau / galau
“Begitu setiap hari, entah sejak kapan dan akan sampai kapan hal itu berlangsung.

“Bagi Haji Brahim, keadaan itu merisaukannya. Sejak, mungkin, 30 tahun lalu dia dipercaya untuk menjadi ketua masjid, keadaan tidak berubah”.

2)      Sabar
“…..,30 tahun lalu dia dipercaya untuk menjadi ketua masjid,……”

3)      Sangat Menjaga Kehormatan
“Mencari sumbangan tidak mudah, dan Haji Brahim tak mengizinkan pengurus mencari sumbangan di jalan raya, sebagaimana dilakukan banyak orang. “Seperti pengemis saja…,” gumamnya.

4)      Pesimis
“Seiring dengan berjalannya waktu, maka pikiran untuk memperluas bangunan itu tinggal sebagai impian saja. Kas masjid nyaris berdebu karena kosong melompong. Dan itu pula sebabnya masjid itu tak bisa memasang listrik, cukup dengan lampu minyak”.

5)      Empati dan Simpati
“….karena melihat betapa susah payahnya si nenek melakukan pekerjaan sederhana itu,”
“Haji Brahim dan seorang pengurus kemudian ikut turun dan mengambil sapu lidi”.
“Haji Brahim tergetar oleh kepolosan dan keluguan si nenek”.

6)      Rajin Berdzikir Setelah Sholat
“…..,seusai shalat Jumat, ketika orang-orang sudah lenyap semua entah ke mana, Haji Brahim dan dua pengurus lainnya masih duduk bersila di lantai masjid. Haji Brahim masih berzikir sementara dua orang itu tengah menghitung uang amal yang masuk hari itu”.

7)      Kurang Kuat Tekadnya
“Malam itu, Haji Brahim pulang cukup larut karena merasa tak tega meninggalkan si nenek. Pengurus masjid yang semula akan menunggui, sepulang Haji Brahim, ternyata juga tak tahan. Bahkan, belum lagi lima menit Haji Brahim pergi, dia diam-diam pulang”.

8)      Kalem dan Murah Senyum
“Tiga puluh ribu, Pak,” ucap salah seorang seperti protes pada entah apa.
“Alhamdulilah.”
“Dengan yang minggu lalu, jumlahnya 75.000. Belum cukup untuk beli cat tembok.”

“Ya, sudah… nanti kan cukup,” ujar Haji Brahim tenang.

“Silakan nenek ambil wudu dan shalat,” ujar Haji Brahim sambil tersenyum”.

c.       Tokoh Nenek
Tokoh ini sangat istimewa. Kemunculan tokoh ini membuat klimaks permasalah dan sekaligus menjadi penyelesai konflik yang terjadi dalam cerpen ini. Karakter tokoh ini dideskripsikan sebagai berikut:
1)      Orang keras kepala
“…..karena melihat betapa susah payahnya si nenek melakukan pekerjaan sederhana itu, salah seorang kemudian mendekat dan membujuk agar si nenek berhenti. Tapi si nenek tetap saja memunguti daun-daun yang berserakan, nyaris menimbun permukaan halaman itu”.

2)      Gigih dalam bekerja
“Daun itu dipungutnya dengan kesungguhan, lalu dimasukkannya ke kantong plastik lusuh, yang tadi dilipat dan diselipkan di setagen yang melilit pinggangnya. Setelah memasukkan daun itu ke kantong plastik, tangannya kembali memungut daun berikutnya. Dan berikutnya. Dan berikutnya….”

3)      Filsuf
“Jangan… jangan pakai sapu lidi… dan biarkan saya sendiri melakukan ini.”
“Tapi nanti nenek lelah.”
“Adakah yang lebih melelahkan daripada menanggung dosa?” ujar si nenek seperti bergumam.
“Dari bibirnya tergumam kalimat permintaan ampun dan sanjungan kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Pada setiap helai yang dipungut dan ditatapnya sesaat dia menggumamkan, “Gusti, mugi paringa aksama. Paringa kanugrahan dateng Kanjeng Nabi.” Sebelum dimasukkannya ke kantong plastic.
“Haji Brahim tergetar oleh kepolosan dan keluguan si nenek. Di matanya, si nenek seperti ingin bersaksi di hadapan ribuan dedaunan bahwa dirinya sedang mencari jalan pengampunan.

“Tidak. Saya tidak menyiksa diri. Ini… mungkin bahkan belum cukup untuk sebuah ampunan,” ucapnya sambil menghapus air matanya.

d.      Tokoh Mijo
Tokoh ini sebagai pelengkap cerita, dan hanya muncul ketika peristiwa adzan subuh. Berikut kutipannnya:
“Begitu subuh tiba, Mijo yang akan azan Subuh mendapati si nenek masih saja melakukan gerakan yang sama”.

6.      Gaya Bahasa
Gaya merupakan sarana bercerita. Dengan demikian gaya biasa disebut sebagai cara pengungkapan seorang yang khas bagi seorang pengarang atau sebagai cara pemakaian bahasa spesifik oleh seorang pengarang. Jadi, gaya merupakan kemahiran seorang pengarang dalam memilih dan menggunakan kata, kelompok kata, atau kalimat dan ungkapan.
Di dalam cerpen ini ternyata pengarang menggunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bidang keagamaan (Islam), seperti Mesjid, Jemaah, Peziarah, dzikir, Alhamdulillah, Assalammuaaikum, dosa, Nabi Muhammad, Gusti, adzan, uang amal, istigfar, Allah, hadirat Allah.
Selain itu, pengarang pun menggunakan pula majas. Majas digunakan dalam karya sastra bertujuan untuk menghidupkan karangan agar tidak muncul kebosanan, menghilangkan kesan monoton, dan memunculkan variasi bahasa. Makna majas diperoleh dengan cara mengalihkan denotasi kata dan menautkan pikiran dengan yang lain.
Majas atau gaya bahasa yang digunakan oleh sastrawan, meskipun tidak terlalu luas biasa namun unik. Karena selain dekat dengan watak dan jiwa sastrawan, juga membuat bahasa yang digunakan berbeda dalam makna dan kemesraannya. Jadi gaya bahasa lebih merupakan pembawaan pribadi. Dengan gaya bahasa tersebut, sastrawan hendak memberi bentuk terhadap apa yang ingin dipaparkannya.
Majas yang tampak pada cerpen ini yakni majas asosiasi atau perumpamaan. Majas asosiasi atau perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama. Majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai, bagaikan, seumpama, seperti, dan laksana. Berikut kutipannnya:
“Begitu besarnya pohon trembesi itu, dengan dahan dan cabangnya yang menjulur ke segala arah, membentuk semacam payung, membuat kita pun akan berpikir, masjid ini memang dipayungi trembesi. Cantik sekali”.

“Daun-daun trembesi berguguran setiap hari, seperti taburan bunga para peziarah makam”.

“Di matanya, si nenek seperti ingin bersaksi di hadapan ribuan dedaunan bahwa dirinya sedang mencari jalan pengampunan”

“Dedaunan yang berserak itu lenyap. Halaman masjid bersih. Menghitam subur tanahnya, seperti disapu, dan daun yang gugur ditahan oleh jaring raksasa hingga tak mencapai tanah..”

Selain itu majas pengarang juga menggunakan majas penegasan tautologi dan retorik. Tautologi adalah majas penegasan dengan mengulang beberapa kali sebuah kata dalam sebuah kalimat dengan maksud menegaskan. Kadang pengulangan itu menggunakan kata bersinonim. Berikut kutipannya:
“Setelah memasukkan daun itu ke kantong plastik, tangannya kembali memungut daun berikutnya. Dan berikutnya. Dan berikutnya….”

Sedangkan majas retorik adalah majas yang berupa kalimat tanya namun tak memerlukan jawaban. Tujuannya memberikan penegasan, sindiran, atau menggugah. Berikut kutipannya:
“Adakah yang lebih melelahkan daripada menanggung dosa?”





BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
Dari hasil analisis intrinsik di atas cerpen berjudul “Salawat Dedaunan” karya Yanusa Nugroho menjadi salah satu cerpen popular kompas 2011 dikarnakan cerpen ini memiliki nilai-nilai didaktis yang bermanfaat bagi pembacanya. Nilai didaktis yang terdapat dalam cerpen ini adalah pentingnya kita berikhtiar untuk memakmurkan  mesjid, diantaranya dengan sholat berjamaah di Mesjid, merawat kebersihan, dan membangun pengembangan sarana Mesjid untuk kepentingan Agama.




















DAFTAR PUSTAKA


Nugroho, Yanusa. (2011). [online]. Tersedia: http://lakonhidup.wordpress.com
/2011/10/14/salawat-dedaunan/. 11 Juli 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar