ANALISIS UNSUR INTRINSIK
CERPEN “SALAWAT DEDAUNAN”
KARYA YANUSA NUGROHO
Diajukan sebagai salah satu tugas
mata kuliah kajian prosa fiksi Indonesia
yang diampu oleh Ibu Isna Sulatri, Dra..
Disusun oleh
Maman Suryaman
41032121101053

/
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN
SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (FKIP)
UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
BANDUNG
2012
KATA
PENGANTAR
Segala puji dan syukur bagi Allah semata, Alhamdulillah penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT, Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Berilmu. Maha Suci
Allah yang telah menjadikan semua yang ada di dunia ini sebagai tempat untuk
belajar dan ujian bagi orang-orang yang bersabar dan bertawakal hanya kepada
Allah. Sungguh, semua atas izin dan kehendak Allah. Berkat limpahan rahmat dan
hidayah-Nya serta memberikan penulis kekuatan, ketabahan, kemudahan, dan
kedamaian berpikir dalam menyelesaikan Makalah yang berjudul “Analisis Unsur Intrinsik Cerpen “Salawat Dedaunan” karya Yanusa Nugroho”. Makalah ini disusun dari hasil kajian guna memenuhi tugas individu Mata Kuliah Kajian Prosa-Fiksi
Indonesia.
Penulis
menyadari bahwa dalam menyusun Makalah ini mengalami banyak
kesulitan dan hambatan. Namun berkat bantuan,
arahan, dorongan serta bimbingan dari berbagai pihak, kesulitan dan hambatan
tersebut dapat terlewati.
Semoga dengan
terselesaikannya Makalah ini
dapat bermanfaat serta dapat menambah wawasan, khususnya bagi Penulis dan
umumnya bagi seluruh pihak yang memerlukan.
Bandung, 12 Juli 2012
Penulis
DAFTAR ISI
halaman
KATA PENGANTAR ....................................................................................... i
DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1
A.
Latar Belakang ....................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah.................................................................................... 2
C.
Tujuan Penulisan...................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................... 3
A.
Sinopsis ................................................................................................... 3
B.
Tinjauan atas Unsur
Intrinsik .................................................................. 4
1. Tema ................................................................................................. 4
2. Amanat ............................................................................................. 5
3. Latar ................................................................................................. 7
4. Alur ................................................................................................... 9
5. Tokoh dan Penokohan ...................................................................... 11
6. Gaya Bahasa ..................................................................................... 14
BAB III PENUTUP ........................................................................................... 16
Kesimpulan .............................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 17
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Perkembangan dunia
sastra dari sejak awal kemunculan sampai saat ini mengalami perkembangan yang
sangat pesat. Setiap karya sastra memiliki ciri dan latar belakang yang berbeda
setiap periodenya. Cerpen salah satunya karya sastra yang mengalami perkembangan
yang sangat pesat. Cerpen merupakan bentuk karya sastra imajinatif yang
tergolong kedalam prosa-fiksi.
Sebagai salah satu
bentuk karya sastra, cerita pendek (cerpen) ternyata dapat memberikan manfaat
kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengganti,
kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku
manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Pengalaman yang
universal itu tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia
serta kemanusiaan. Ia bisa berupa masalah perkawinan, percintaan, tradisi,
agama, persahabatan, sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya. Jadi tidaklah
mengherankan jika seseorang pembaca cerpen, maka sepertinya orang yang
membacanya itu sedang melihat miniatur kehidupan manusia dan merasa sangat
dekat dengan permasalahan yang ada di dalamnya. Akibatnya, si pembacanya itu
ikut larut dalam alur dan permasalahan cerita. Bahkan sering pula perasaan dan
pikirannya dipermainkan oleh permasalahan cerita yang dibacanya itu. Ketika
itulah si pembacanya itu akan tertawa, sedih, bahagia, kecewa, marah , dan
mungkin saja akan memuja sang tokoh atau membencinya.
Melihat gambaran
kenyataannya seperti itu, maka jelaslah bahwa sastra (cerpen) telah berperan
sebagai pemekat, sebagai karikatur dari kenyataan, dan sebagai pengalaman
kehidupan, seperti yang diungkapakan Saini K.M. (1989:49).
Tidak hanya itu,
kiranya cerpen dengan segala permasalahannya yang universal itu ternyata
menarik juga untuk dikaji. Bahkan tidak pernah berhenti orang yang akan
mengkajinya. Seperti halnya kami mencoba mengkaji cerpen sebagai bahan kajian
prosa-fiksi di kelas. Cerpen yang kami kaji itu adalah sebuah cerpen yang
berjudul “Salawat Dedaunan” karya
Yanusa Nugroho.
Kajian ini di harapkan
dapat memberikan solusi dalam upaya memahami, menambah keterampian dan referensi
bahan sebagai persiapan menjadi guru yang professional.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas, saya mencoba mengidentifikasi masalah sayaan ini.
Identifikasi masalahnya sebagai berikut:
2.
Faktor apakah yang membuat cerpen
tersebut diakui sebagai salah satu cerpen popular Kompas 2011?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah
ini adalah sebagai berikut:
a.
Sebagai tugas mata kuliah Kajian Prosa-Fiksi di Universitas
Islam Nusantara (UNINUS) Bandung, semester 4 tahun ajaran 2011/2012.
b. Memaparkan analisis intrinsik cerpen
“Salawat Dedaunan” sebagai proses pembelajaran
dalam mata kuiah kajian prosa-fiksi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sinopsis
Cerita
cerpen ini mengisahkan tentang seorang Haji Brahim yang risaukan kemakmuran
Mesjid yang dipimpinnya. Sejak, mungkin, 30 tahun lalu dia dipercaya untuk
menjadi ketua masjid, keadaan tidak berubah. Bahkan, setiap Jumat, jumlah
jemaah, paling banyak 45 orang. Pernah terpikirkan untuk memperluas bangunan,
tetapi dana tak pernah cukup. Mencari sumbangan tidak mudah, dan Haji Brahim
tak mengizinkan pengurus mencari sumbangan di jalan raya sebagaimana dilakukan
banyak orang. “Seperti pengemis saja…,” gumamnya. Seiring dengan berjalannya
waktu, maka pikiran untuk memperluas bangunan itu tinggal sebagai impian saja.
Kas masjid nyaris berdebu karena kosong melompong. Dan itu pula sebabnya masjid
itu tak bisa memasang listrik, cukup dengan lampu minyak.
Suatu
siang, seusai shalat Jumat, ketika orang-orang sudah lenyap semua entah ke
mana, Haji Brahim dan dua pengurus lainnya masih duduk bersila di lantai
masjid. Sesaat ketika kedua orang itu akan berdiri, di halaman dilihatnya ada
seorang nenek tua tengah menyapu pandang. Haji Brahim pun menoleh dan
dilihatnya nenek itu dengan badan bungkuk, tertatih mendekat.
“Alaikum
salam…, Nek,” jawab salah seorang pengurus, sambil mengangsurkan uang 500-an.
Tapi
si nenek diam saja. Memandangi si pemberi uang dengan pandangannya yang tua.
“Ada
apa?” tanya Haji Brahim, seraya mendekat.
“Saya
tidak perlu uang. Saya perlu jalan ampunan.”
Dari
bibirnya tergumam kalimat permintaan ampun dan sanjungan kepada Kanjeng Nabi
Muhammad. Pada setiap helai yang dipungut dan ditatapnya sesaat dia
menggumamkan, “Gusti, mugi paringa aksama. Paringa kanugrahan dateng
Kanjeng Nabi.” Sebelum dimasukkannya ke kantong plastik.
Haji
Brahim tergetar oleh kepolosan dan keluguan si nenek. Di matanya, si nenek
seperti ingin bersaksi di hadapan ribuan dedaunan bahwa dirinya sedang mencari
jalan pengampunan.
Hari
bergulir ke Magrib. Dan si nenek masih saja di tempat semula, nyaris tak
beranjak, memunguti dedaunan yang selalu saja berguguran di halaman. Tubuh
tuanya yang kusut basah oleh keringat. Napasnya terengah-engah.
Dua
hari kemudian, tepat ketika kumandang waktu Ashar terdengar, si nenek
tersungkur dan meninggal. Orang-orang terpekik, ada yang mencoba membawanya ke
puskesmas, tetapi entah mengapa tak jadi.
Sejak
kedatangan si nenek mesjid menjadi semarak. Entah apa yang terjadi Haji Brahim
tercekat. Dia tiba-tiba merasa sunyi menyergapnya. Dia menyapu pandang, ada
yang aneh di matanya. Dedaunan yang berserak itu lenyap. Halaman masjid bersih.
Menghitam subur tanahnya, seperti disapu, dan daun yang gugur ditahan oleh
jaring raksasa hingga tak mencapai tanah.
B.
Tinjauan atas Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah
unsur dalam yang membentuk penciptaan karya sastra. Unsur ini berupa tema,
amanat, latar, alur, tokoh dan penokohan, dan gaya bahasa. Unsur yang terdapat
dalam cerpen “Salawat Dedaunan” karya
Yanusa Nugroho itu
sebagai berikut:
1. Tema
Pengarang yang sedang
menulis cerita pasti akan menuangkan gagasannya. Tanpa gagasan pasti dia tidak
bisa menulis cerita. Gagasan yang mendasari cerita yang dibuatnya itulah yang
disebut tema dan gagasan seperti ini selalu berupa pokok bahasan.
Tema atau pokok
persoalan cerpen “Salawat Dedaunan”,
sesungguhnya terletak pada persoalan Haji Brahim yang risau akan kemakmuran mesjid
yang dipimpinnya. Berikut kutipannnya:
“Namun, masjid ini sepi. Terutama jika siang hari.
Subuh ada lima orang berjemaah, itu pun pengurus semua. Maghrib, masih lumayan,
bisa mencapai dua saf. Isya… hanya paling banyak lima orang. Begitu setiap
hari, entah sejak kapan dan akan sampai kapan hal itu berlangsung.
“Bagi Haji Brahim, keadaan itu merisaukannya. Sejak,
mungkin, 30 tahun lalu dia dipercaya untuk menjadi ketua masjid, keadaan tidak
berubah. Bahkan, setiap Jumat, jumlah jemaah, paling banyak 45 orang”.
Dengan demikian,
kesimpulan atas fakta-fakta di atas maka tema cerpen ini adalah tentang
keagamaan.
Tema cerpen ini bersifat
universal, memberikan gambaran pengalaman pada pembaca akan kurangnya kesadaran
masyarakat akan kemakmuran mesjid. Begitu besar perhatian masyarakat terhadap
pembangunan Mesjid, tetapi sangat kecil perhatian akan kemakmuran Mesjid yang
mereka bangun. Pesan kritik membangun terhadap masyarakat ini menjadikan cerpen
“Salawat Dedaunan”
karya Yanusa Nugroho menjadi salah
satu cerpen populer Kompas 2011.
2. Amanat
Di dalam sebuah cerita,
gagasan atau pokok persoalan dituangkan sedemikian rupa oleh pengarangnya sehingga
gagasan itu mendasari seluuh cerita. Gagasan yang mendasari seluruh cerita ini
dipertegas oleh pengarangnya melalui solusi bagi pokok persoalan itu. Dengan
kata lain solusi yang dimunculkan pengaranngnya itu dimaksudkan untuk
memecahkan pokok persoalan, yang didalamnya akan terlibat pandangan hidup dan
cita-cita pengarang. Hal inilah yang dimaksudkan dengan amanat. Dengan
demikian, amanat merupakan keinginan pengarang untuk menyampaikan pesan atau
nasihat kepada pembacanya.
Jadi amanat pokok yang
terdapat dalam cerpen “Salawat Dedaunan” karya Yanusa Nugroho
adalah “pentingnya memakmurkan Mesjid”. Hal ini terdapat pada paragraf keempat
dan kelima. Amanat pokok / utama ini kemudian diperjelas atau diuraikan dalam
ceritanya. Akibatnya muncullah amanat-amanat lain yang mempertegas amanat utama
itu. Amanat-amanat yang dimaksud itu di antaranya:
(a) Amanat
ini dimunculkan melalui kerisauan Haji Brahim terhadap kemakmuran mesjid yang dipimpinnya
selama puluhan tahun.
“……masjid
ini memang dipayungi trembesi. Cantik sekali.
Namun,
masjid ini sepi. Terutama jika siang hari. Subuh ada lima orang berjemaah, itu
pun pengurus semua. Maghrib, masih lumayan, bisa mencapai dua saf. Isya… hanya
paling banyak lima orang. Begitu setiap hari, entah sejak kapan dan akan sampai
kapan hal itu berlangsung.
Bagi Haji
Brahim, keadaan itu merisaukannya. Sejak, mungkin, 30 tahun lalu dia dipercaya
untuk menjadi ketua masjid, keadaan tidak berubah. Bahkan, setiap Jumat, jumlah
jemaah, paling banyak 45 orang”.
Selain Haji Brahim ada juga seorang Nenek yang bertekad
untuk memakmurkan mesjid, walau hanya dengan sekedar membersihkan halaman
mesjid yang dianggabnya sebagai jalan pertobatan atas dosa yang dilakukannnya.
“Saya
tidak perlu uang. Saya perlu jalan ampunan.”
“Adakah
yang lebih melelahkan daripada menanggung dosa?” ujar si nenek seperti
bergumam.
“…….,dia
kemudian memungut daun yang tergeletak di halaman. Daun itu dipungutnya dengan
kesungguhan, lalu dimasukkannya ke kantong plastik lusuh, yang tadi dilipat dan
diselipkan di setagen yang melilit pinggangnya. Setelah memasukkan daun itu ke
kantong plastik, tangannya kembali memungut daun berikutnya. Dan berikutnya.
Dan berikutnya….”
(b) Infakkan lah sebagian harta kita
untuk membela Agama Allah dengan memakmurkan Mesjid lewat pembangunan sarana
dan prasarana.
“……Pernah terpikirkan untuk memperluas
bangunan, tetapi dana tak pernah cukup”.
“……Seiring dengan berjalannya waktu, maka pikiran untuk
memperluas bangunan itu tinggal sebagai impian saja. Kas masjid nyaris berdebu
karena kosong melompong. Dan itu pula sebabnya masjid itu tak bisa memasang
listrik, cukup dengan lampu minyak”
(c) Jagalah harga diri seorang muslim
dalam berikhtiar membangun sarana dan prasarana Ibadah untuk kepentingan Umat dan
Agama.
“.......Mencari sumbangan tidak mudah, dan Haji Brahim tak
mengizinkan pengurus mencari sumbangan di jalan raya—sebagaimana dilakukan
banyak orang. “Seperti pengemis saja…,” gumamnya.
(d) Perbanyak lah istigfar untuk
membersihkan diri dari perbuatan dosa dan bersholawatlah untuk Nabi Muhammad
SAW.
“Saya tidak
perlu uang. Saya perlu jalan ampunan.”
“Dari bibirnya
tergumam kalimat permintaan ampun dan sanjungan kepada Kanjeng Nabi Muhammad.
Pada setiap helai yang dipungut dan ditatapnya sesaat dia menggumamkan, “Gusti,
mugi paringa aksama. Paringa kanugrahan dateng Kanjeng Nabi.” Sebelum dimasukkannya ke kantong plastik.
Dan akhirnya amanat (a)
menjadi kunci amanat yang diinginkan pengarang untuk pembacanya. Amanat itu
kemudian dirumuskan, seperti yang sudah dituliskan pada bagian awal tentang
amanat di atas.
3. Latar
Dalam suatu cerita
latar dibentuk melalui segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan
dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Latar ini ada tiga
macam, yaitu: latar tempat; latar waktu; dan latar sosial.
1) Latar Tempat
Latar jenis ini biasa
disebut latar fisik. Latar ini dapat berupa daerah, bangunan, kapal, sekolah,
kampus, hutan, dan sejenisnya. Latar tempat yang ada dalam cerpen ini berada di
dalam dan disekitar halaman Mesjid di bawah pohon trembesi. Berikut
kutipannnya:
“Suatu siang, seusai shalat Jumat, ketika
orang-orang sudah lenyap semua entah ke mana, Haji Brahim dan dua pengurus
lainnya masih duduk bersila di lantai masjid. Haji Brahim masih berzikir
sementara dua orang itu tengah menghitung uang amal yang masuk hari itu”.
“Sesaat ketika kedua orang itu akan berdiri, di
halaman dilihatnya ada seorang nenek tua tengah menyapu pandang”.
“Tanpa berkata
apa pun, dia kemudian memungut daun yang tergeletak di halaman….”.
“Dan di hadapan
bangunan masjid itu tumbuh pohon trembesi yang cukup besar”.
“Begitu besarnya
pohon trembesi itu, dengan dahan dan cabangnya yang menjulur ke segala arah,
membentuk semacam payung, membuat kita pun akan berpikir, masjid ini memang
dipayungi trembesi”.
Selain di Mesjid kejadian ini berlangsung juga di Puskesmas. Berikut
kutipannnya:
“Orang-orang
terpekik, ada yang mencoba membawanya ke puskesmas,….”
Kejadian periristiwa ini berada di
daerah betawi. Hal ini dapat kita lihat dari penggunaan bahasa “Ji” yang
mencirikan bahasa betawi. Berikut kutipannnya:
“Memangnya bisa begitu, Ji?”
2) Latar Waktu
Latar waktu dalam cerpen ini dapat kita lihat dalam beberapa paparan
sebagai berikut:
“Namun, masjid
ini sepi. Terutama jika siang hari.
Subuh ada lima orang
berjemaah, itu pun pengurus semua. Maghrib,
masih lumayan, bisa mencapai dua saf. Isya… hanya paling banyak lima orang.
Begitu setiap hari, entah
sejak kapan dan akan sampai kapan hal itu berlangsung”.
“Bahkan, setiap Jumat, jumlah jemaah,
paling banyak 45 orang”.
“Suatu siang, seusai shalat Jumat,
ketika orang-orang sudah lenyap semua entah ke mana,…”
“Hari bergulir
ke Magrib”.
“Ketika maghrib tiba, dan
orang-orang melakukan sembahyang, si nenek masih saja memunguti dedaunan.
“Malam itu, Haji Brahim pulang
cukup larut karena merasa tak tega meninggalkan si nenek. Pengurus masjid yang
semula akan menunggui, sepulang Haji Brahim, ternyata juga tak tahan. Bahkan,
belum lagi lima menit Haji
Brahim pergi, dia diam-diam pulang.
“Tak ada yang
tahu apakah si nenek tertidur atau terjaga malam
itu. Begitu subuh
tiba, Mijo yang akan azan Subuh mendapati si nenek masih saja melakukan gerakan
yang sama. Udara begitu dingin. Beberapa kali si nenek terbatuk.
“….tetapi begitu
bertepatan waktu shalat
masuk, mereka melakukan shalat berjemaah”.
“Dua hari kemudian, tepat ketika
kumandang waktu Ashar terdengar, si nenek tersungkur dan
meninggal.
3) Latar Sosial
Di dalam latar ini
umumnya menggambarkan keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya,
kebiasaannya, cara hidup, dan bahasa. Di dalam cerpen ini latar sosial
digambarkan sebagai berikut :
“Namun, masjid ini sepi. Terutama jika siang hari.
Subuh ada lima orang berjemaah, itu pun pengurus semua. Maghrib, masih lumayan,
bisa mencapai dua saf. Isya… hanya paling banyak lima orang. Begitu setiap
hari, entah sejak kapan dan akan sampai kapan hal itu berlangsung”.
Latar social ini
menggambarkan kehidupan masyarakat yang jarang
Sholat berjamaah di Mesjid.
“Pernah terpikirkan untuk memperluas bangunan,
tetapi dana tak pernah cukup. Mencari sumbangan tidak mudah, dan Haji Brahim
tak mengizinkan pengurus mencari sumbangan di jalan raya—sebagaimana dilakukan
banyak orang. “Seperti pengemis saja…,” gumamnya.
Latar sosial ini
menggambarkan kelompok pengurus DKM ini sangat menjaga sekali kehormatan dan
nama baik Agama. Walau membutuhkan dana, tapi tidak mengemis untuk meminta
subangan di jalan-jalan.
4. Alur
(plot)
Alur menurut Suminto A.
Sayuti (2000:31) diartikan sebagai peristiwa-peristiwa yang diceritakan dengan
panjang lebar dalam suatu rangkaian tertentu dan berdasarkan hubungan-hubungan
konsolitas itu memiliki struktur. Strukturnya itu terdiri dari tiga bagian,
yaitu bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Didalam cerpen ini, struktur
plot itu dapat diuraikan seperti berikut:
Bagian Awal
Struktur awal terdiri dari paparan,
rangsangan, dan gawatan. Pada bagian awal cerita ini penulis memaparkan
gambaran situasi dan kondis sebagai pijakan awal dimuainya cerita. Situasi yang
di gambarkan merupakan sebuah rangsangan untuk pengenalan masalah dalam cerita
ini. Kemudian setelah pengenalan masalah tersebut, dibuat konflik yang membuat
jalan cerita ini menjadi menarik. Untuk lebih jelas, berikut pemaparannya:
“MASJID itu hanyalah sebuah bangunan kecil saja. Namun, jika kau memperhatikan,
kau akan segera tahu usia bangunan itu sudah sangat tua. Temboknya tebal,
jendelanya tak berdaun hanya lubang segi empat dengan lengkungan di bagian
atasnya. Begitu juga pintunya, tak berdaun pintu. Lantainya menggunakan keramik
putih kuduga itu baru kemudian dipasang, karena modelnya masih bisa dijumpai di
toko-toko material.
Masjid itu kecil saja, mungkin hanya bisa menampung sekitar 50 orang
berjemaah”.
Berdasarkan kutipan cerpen di atas pada bagian
awal ini penulis memaparkan kondisi lingkungan yang terjadi dalam cerpen
tersebut. Dari paparan ini penulis memberikan rangsangan jalan cerita menuju
konflik dalam cerpen ini yang ditandai dengan reaksi tokoh dalam menyikapi
situasi ini merasa risau. Berikut kutipannya:
“Namun, halaman masjid itu cukup luas. Dan di hadapan bangunan masjid itu
tumbuh pohon trembesi yang cukup besar. Mungkin saja usianya sudah ratusan
tahun”.
“….masjid ini memang dipayungi trembesi.
Cantik sekali.
Namun, masjid ini sepi. Terutama jika siang
hari. Subuh ada lima orang berjemaah, itu pun pengurus semua. Maghrib, masih
lumayan, bisa mencapai dua saf. Isya… hanya paling banyak lima orang. Begitu
setiap hari, entah sejak kapan dan akan sampai kapan hal itu berlangsung.
Bagi Haji Brahim, keadaan itu merisaukannya.
Sejak, mungkin, 30 tahun lalu dia dipercaya untuk menjadi ketua masjid, keadaan
tidak berubah”.
Bagian
Tengah
Struktur tengah
terdapat klimaks. Pada bagian tengah ini permasalahan/ konflik yang terjadi
mengaami puncak masalah. Klimaks, digambarkan ketika kurangnya kepedulian
masyarakat terhadap kemakmuran mesjid tersebut, sampai kas mesjid kosong,
halaman mesjid ribun oleh dedaunan yang berguguran dan listrik pun tidak ada.
“Pernah terpikirkan untuk memperluas bangunan,
tetapi dana tak pernah cukup. Mencari sumbangan tidak mudah, dan Haji Brahim
tak mengizinkan pengurus mencari sumbangan di jalan raya sebagaimana dilakukan
banyak orang. “Seperti pengemis saja…,” gumamnya. Seiring dengan berjalannya
waktu, maka pikiran untuk memperluas bangunan itu tinggal sebagai impian saja.
Kas masjid nyaris berdebu karena kosong melompong. Dan itu pula sebabnya masjid
itu tak bisa memasang listrik, cukup dengan lampu minyak.
“Daun-daun trembesi berguguran setiap hari,
seperti taburan bunga para peziarah makam…”.
“….Jelas tak ada orang yang secara khusus
menyapu halaman setiap hari.
“Terlalu luas untuk sebuah pekerjaan
gratisan…”
Bagian
Akhir
Struktur akhir
terdiri dari laraian dan selesaian. Bagian terakhir cerita ini ternyata
pengarang memberikan penyelesaian konflik lewat tokoh seorang nenek yang
memungut daun-daun yang berserakan di halaman mesjid. Sikap tokoh ini ternyata
membuat perhatian masyarakat, dan berduyun-duyun pergi kemesjid untuk meleraikan
kepenasarannnya. Namun tanpa disengaja mesjid pun menjadi ramai. Setelah
kepergian si nenek mesjid itu pun menjadi makmur. Untuk lebih jelas berikut
kutipannya:
“Peristiwa si
nenek itu ternyata mengundang perhatian banyak orang. Mereka berdatangan ke
masjid. Niat mereka mungkin ingin menyaksikan si nenek, tetapi begitu
bertepatan waktu shalat masuk, mereka melakukan shalat berjemaah. Tanpa mereka
sadari sepenuhnya, masjid itu jadi semarak. Orang datang berduyun-duyun,
membawa makanan untuk si nenek, atau sekadar memberinya minum. Dan, semuanya
selalu berjemaah di masjid”.
“….Dedaunan yang berserak itu lenyap. Halaman
masjid bersih. Menghitam subur tanahnya, seperti disapu, dan daun yang gugur
ditahan oleh jaring raksasa hingga tak mencapai tanah”.
Jika struktur alurnya seperti di atas maka alur cerpen ini
dikelompokkan ke dalam alur maju. Dikatakan demikian
karena cerita cerpen ini
terus maju alurnya dari awal sampai akhir.
5. Tokoh
dan Penokohan
Yang dimaksud dengan
tokoh adalah lakon atau pemain yang ada dalam cerita. Keberadaan tokoh bisa
berperan secara aktif ataupun pasif dalam sebuah cerita. penokohan yakni
bagaimana pengarang menampilkan perilaku tokoh-tokohnya berikut wataknya. Yanusa
Nugroho menampilkan tokoh-tokohnya sebagai berikut:
a.
Tokoh
aku
Tokoh ini begitu
berperan dalam cerpen ini. Dari mulutnya kita bisa mendengar kisah Haji Brahim
yang berjuang memakmurkan mesjidnya. Tokoh ini walau pun tidak dimunculkan oleh
pengarang, sebagai penjelmaan wujud dirinya, tetapi keberadaannya sangat terasa
lewat pemaparan ceritanya yang seolah-olah tokoh aku ini bercerita tentang
kisah orang lain. Dalam penggalan cerpen ini juga, pengarang sangat jelas
memposisikan dirinya sebagi orang pertama dalam cerpen ini. Hal ini dapat kita
lihat pada kutipan berikut:
“…..jika kau
memperhatikan, kau akan
segera tahu usia bangunan itu sudah sangat tua”.
“…..Lantainya menggunakan keramik putih kuduga itu baru kemudian
dipasang, karena modelnya masih bisa dijumpai di toko-toko material”.
“Aku
terdiam. Kubayangkan dedaunan
itu, yang jumlahnya mungkin ribuan helai itu, melayang ke hadirat Allah,
membawa goresan permohonan ampun.
b.
Tokoh
Haji Brahim
Tokoh ini merupakan
tokoh utama yang menjadi sentral semua jalan cerita. Hal ini dapat kita lihat
dari pengisahan yang dibuat pengarang dengan jelas menceritakan tentang
perjuangan Haji Brahim untuk memakmurkan mesjidnya. Pengarang mendeskripsikan perwatakan
tokoh ini sebagai berikut:
1)
Risau / galau
“Begitu
setiap hari, entah sejak kapan dan akan sampai kapan hal itu berlangsung.
“Bagi Haji
Brahim, keadaan itu merisaukannya. Sejak, mungkin, 30 tahun lalu dia dipercaya
untuk menjadi ketua masjid, keadaan tidak berubah”.
2)
Sabar
“…..,30 tahun lalu dia dipercaya
untuk menjadi ketua masjid,……”
3)
Sangat Menjaga Kehormatan
“Mencari sumbangan tidak mudah, dan Haji Brahim tak
mengizinkan pengurus mencari sumbangan di jalan raya, sebagaimana dilakukan
banyak orang. “Seperti pengemis saja…,” gumamnya.
4)
Pesimis
“Seiring dengan berjalannya waktu, maka pikiran
untuk memperluas bangunan itu tinggal sebagai impian saja. Kas masjid nyaris
berdebu karena kosong melompong. Dan itu pula sebabnya masjid itu tak bisa
memasang listrik, cukup dengan lampu minyak”.
5)
Empati dan Simpati
“….karena melihat betapa susah payahnya si nenek
melakukan pekerjaan sederhana itu,”
“Haji Brahim dan seorang pengurus kemudian ikut
turun dan mengambil sapu lidi”.
“Haji Brahim tergetar oleh kepolosan dan keluguan si
nenek”.
6)
Rajin Berdzikir Setelah Sholat
“…..,seusai shalat Jumat, ketika orang-orang sudah
lenyap semua entah ke mana, Haji Brahim dan dua pengurus lainnya masih duduk
bersila di lantai masjid. Haji Brahim masih berzikir sementara dua orang itu
tengah menghitung uang amal yang masuk hari itu”.
7)
Kurang Kuat Tekadnya
“Malam itu, Haji Brahim pulang cukup larut karena
merasa tak tega meninggalkan si nenek. Pengurus masjid yang semula akan
menunggui, sepulang Haji Brahim, ternyata juga tak tahan. Bahkan, belum lagi
lima menit Haji Brahim pergi, dia diam-diam pulang”.
8)
Kalem dan Murah Senyum
“Tiga
puluh ribu, Pak,” ucap salah seorang seperti protes pada entah apa.
“Alhamdulilah.”
“Dengan
yang minggu lalu, jumlahnya 75.000. Belum cukup untuk beli cat tembok.”
“Ya,
sudah… nanti kan cukup,” ujar Haji Brahim tenang.
“Silakan
nenek ambil wudu dan shalat,” ujar Haji Brahim sambil tersenyum”.
c.
Tokoh
Nenek
Tokoh ini sangat
istimewa. Kemunculan tokoh ini membuat klimaks permasalah dan sekaligus menjadi
penyelesai konflik yang terjadi dalam cerpen ini. Karakter tokoh ini
dideskripsikan sebagai berikut:
1)
Orang keras kepala
“…..karena melihat betapa susah payahnya si nenek
melakukan pekerjaan sederhana itu, salah seorang kemudian mendekat dan membujuk
agar si nenek berhenti. Tapi si nenek tetap saja memunguti daun-daun yang
berserakan, nyaris menimbun permukaan halaman itu”.
2)
Gigih dalam bekerja
“Daun itu dipungutnya dengan kesungguhan, lalu
dimasukkannya ke kantong plastik lusuh, yang tadi dilipat dan diselipkan di
setagen yang melilit pinggangnya. Setelah memasukkan daun itu ke kantong
plastik, tangannya kembali memungut daun berikutnya. Dan berikutnya. Dan
berikutnya….”
3)
Filsuf
“Jangan…
jangan pakai sapu lidi… dan biarkan saya sendiri melakukan ini.”
“Tapi
nanti nenek lelah.”
“Adakah
yang lebih melelahkan daripada menanggung dosa?” ujar si nenek seperti
bergumam.
“Dari
bibirnya tergumam kalimat permintaan ampun dan sanjungan kepada Kanjeng Nabi
Muhammad. Pada setiap helai yang dipungut dan ditatapnya sesaat dia
menggumamkan, “Gusti, mugi paringa
aksama. Paringa kanugrahan
dateng Kanjeng Nabi.” Sebelum dimasukkannya ke kantong plastic.
“Haji Brahim tergetar oleh kepolosan dan keluguan si
nenek. Di matanya, si nenek seperti ingin bersaksi di hadapan ribuan dedaunan
bahwa dirinya sedang mencari jalan pengampunan.
“Tidak. Saya tidak menyiksa diri. Ini… mungkin
bahkan belum cukup untuk sebuah ampunan,” ucapnya sambil menghapus air matanya.
d.
Tokoh
Mijo
Tokoh ini sebagai pelengkap cerita,
dan hanya muncul ketika peristiwa adzan subuh. Berikut kutipannnya:
“Begitu subuh
tiba, Mijo yang akan azan Subuh mendapati si nenek masih saja melakukan gerakan
yang sama”.
6. Gaya
Bahasa
Gaya merupakan sarana
bercerita. Dengan demikian gaya biasa disebut sebagai cara pengungkapan seorang
yang khas bagi seorang pengarang atau sebagai cara pemakaian bahasa spesifik
oleh seorang pengarang. Jadi, gaya merupakan kemahiran seorang pengarang dalam
memilih dan menggunakan kata, kelompok kata, atau kalimat dan ungkapan.
Di dalam cerpen ini
ternyata pengarang menggunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bidang
keagamaan (Islam), seperti Mesjid, Jemaah, Peziarah, dzikir, Alhamdulillah,
Assalammuaaikum, dosa, Nabi Muhammad, Gusti, adzan, uang amal, istigfar, Allah,
hadirat Allah.
Selain itu, pengarang
pun menggunakan pula majas. Majas digunakan dalam karya sastra bertujuan untuk
menghidupkan karangan agar tidak muncul kebosanan, menghilangkan kesan monoton,
dan memunculkan variasi bahasa. Makna majas diperoleh dengan cara mengalihkan
denotasi kata dan menautkan pikiran dengan yang lain.
Majas atau gaya bahasa
yang digunakan oleh sastrawan, meskipun tidak terlalu luas biasa namun unik.
Karena selain dekat dengan watak dan jiwa sastrawan, juga membuat bahasa yang
digunakan berbeda dalam makna dan kemesraannya. Jadi gaya bahasa lebih
merupakan pembawaan pribadi. Dengan gaya bahasa tersebut, sastrawan hendak
memberi bentuk terhadap apa yang ingin dipaparkannya.
Majas yang tampak pada
cerpen ini yakni majas asosiasi atau perumpamaan. Majas asosiasi atau
perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda, tetapi
sengaja dianggap sama. Majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai,
bagaikan, seumpama, seperti, dan laksana. Berikut kutipannnya:
“Begitu besarnya
pohon trembesi itu, dengan dahan dan cabangnya yang menjulur ke segala arah,
membentuk semacam payung, membuat
kita pun akan berpikir, masjid ini memang dipayungi trembesi. Cantik sekali”.
“Daun-daun
trembesi berguguran setiap hari, seperti taburan bunga para peziarah makam”.
“Di matanya, si
nenek seperti ingin bersaksi di hadapan ribuan dedaunan bahwa dirinya sedang
mencari jalan pengampunan”
“Dedaunan yang
berserak itu lenyap. Halaman masjid bersih. Menghitam subur tanahnya, seperti
disapu, dan daun yang gugur ditahan oleh jaring raksasa hingga tak mencapai
tanah..”
Selain itu majas
pengarang juga menggunakan majas penegasan tautologi dan retorik. Tautologi
adalah majas penegasan dengan mengulang beberapa kali sebuah kata dalam sebuah
kalimat dengan maksud menegaskan. Kadang pengulangan itu menggunakan kata
bersinonim. Berikut kutipannya:
“Setelah
memasukkan daun itu ke kantong plastik, tangannya kembali memungut daun
berikutnya. Dan berikutnya. Dan berikutnya….”
Sedangkan majas retorik
adalah majas yang berupa kalimat tanya namun tak memerlukan jawaban. Tujuannya
memberikan penegasan, sindiran, atau menggugah. Berikut kutipannya:
“Adakah
yang lebih melelahkan daripada menanggung dosa?”
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil analisis
intrinsik di atas cerpen berjudul “Salawat
Dedaunan” karya Yanusa Nugroho menjadi salah satu cerpen popular kompas
2011 dikarnakan cerpen ini memiliki nilai-nilai didaktis yang bermanfaat bagi
pembacanya. Nilai didaktis yang terdapat dalam cerpen ini adalah pentingnya
kita berikhtiar untuk memakmurkan
mesjid, diantaranya dengan sholat berjamaah di Mesjid, merawat
kebersihan, dan membangun pengembangan sarana Mesjid untuk kepentingan Agama.
DAFTAR PUSTAKA
Nugroho,
Yanusa. (2011). [online]. Tersedia: http://lakonhidup.wordpress.com
/2011/10/14/salawat-dedaunan/.
11 Juli 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar