APRESIASI
PROSA FIKSI DAN PEMBELAJARANNYA
A.
Pengertian
Pada dasarnya prosa fiksi merupakan cerita rekaan yang
dihasilkan oleh pengarang melalui proses perpaduan pikiran dan perasaannya. Kekuatan
pengarang untuk menghasilkan karya-karyanya dalam prosa fiksi adalah imajinasi.
Dengan imajinasi pengarang mampu menuangkan ide-idenya secara bebas dalam
sebuah tulisan yang menarik. Makna imajinasi disini bukan berarti prosa fiksi
terlahir dari lamunan kosong semata, tetapi hasil dari perpaduan proses
berfikir dan perasaan yang bersumber dari lingkungan kehidupan yang dialami,
disaksikan, didengar, dan dibaca oleh pengarang.
Jika kita telaah lebih
dalam tentang prosa, kata prosa diambil dari bahasa Inggris, prose. Kata ini
sebenarnya menyaran pada pengertian yang lebih luas, tidak hanya mencakup pada
tulisan yang digolongkan sebagai karya sastra, tapi juga karya non fiksi,
seperti artikel, esai, dan sebagainya. Agar tidak terjadi kekeliruan,
pengertian prosa pada kajian ini dibatasi pada prosa sebagai genre sastra.
Dalam pengertian kesastraan, prosa sering diistilahkan dengan fiksi (fiction),
teks naratif (narrative text) atau wacana naratif (narrative discourse). Prosa
yang sejajar dengan istilah fiksi (arti rekaan) dapat diartikan : karya naratif
yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, tidak sungguh-sungguh terjadi
di dunia nyata. Tokoh, peristiwa dan latar dalam fiksi bersifat imajiner. Hal
ini berbeda dengan karya nonfiksi. Dalam nonfiksi tokoh, peristiwa, dan latar
bersifat faktual atau dapat dibuktikan di dunia nyata (secara empiris).
Kata
fiksi berasal dari kata fiction yang berarti rekaan.
Fiksi dapat dibedakan atas fiksi yang realitas dan fiksi yang aktualitas. Fiksi
realitas mengatakan: “seandainya semua fakta, maka beginilah yang akan terjadi.
Jadi, fiksi realitas adalah hal-hal yang dapat terjadi, tetapi belum tentu
terjadi. Penulis fiksi membuat para tokoh imaginatif dalam karyanya itu menjadi
hidup. Fiksi aktualitas mengatakan “karena semua fakta maka beginilah yang akan
terjadi”. Jadi, aktualitas artinya hal-hal yang benar-benar terjadi. Contoh:
roman sejarah, kisah perjalanan, biografi, dan otobiografi.
Berikut pengertian prosa fiksi
menurut beberapa para ahli:
1.
Prosa Fiksi adalah kisahan atau ceritera
yang diemban oleh palaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan
dan rangkaian ceritera tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya
sehingga menjalin suatu ceritera. (aminuddin, 2002:66).
2.
M. Saleh Saad dan Anton M. Muliono (dalam
Tjahyono, 1988:106) mengemukakan pengertian prosa fiksi (fiksi, prosa narasi,
narasi, ceritera berplot, atau ceritera rekaan disingkat cerkan) adalah bentuk
ceritera atau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, lakuan, peristiwa, dan alur
yang dihasilkan oleh daya imajinasi.
3.
Sudjiman, (1984:17) yang menyebut fiksi
ini dengan istilah ceritera rekaan, yaitu kisahan yang mempunyai tokoh, lakuan,
dan alur yang dihasilkan oleh daya
khayal atau imajinasi, dalam ragam prosa.
Berdasarkan pengertian
di atas dapat penulis simpulkan bahwa prosa fiksi adalah cerita rekaan yang
unsur-unsur intrinsiknya bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga
menjalin suatu ceritera.
B.
Ciri-Ciri
Prosa Fiksi
1.
Bersifat fiksi/rekaan
2.
Bahasan terurai / berupa narasi;
3.
Dalam ceritanya memiliki tokoh,
peristiwa, latar, alur, dan pesan/ajaran;
4.
Dapat memperluas pengetahuan dan
menambah pengetahuan, terutama pengalaman imajinatif;
5.
Prosa fiksi dapat menyampaikan informasi
mengenai suatu kejadian dalam kehidupan yang berfungsi menghibur, kejiwaan, dan
menyampaikan nilai-nilai kebenaran;
6.
Maknanya dapat berarti ambigu;
7.
Prosa melukiskan realita imajinatif
karena imajinatif selalu terikat pada reaitas, sedangkan reaitas tak mungkin
lepas dari imajinatif;
8.
Bahasannya lebih condong ke bahasa
figurative dengan menitiberatkan pada pengguna kata-kata konotatif;
9.
Prosa fiksi mengajak kita untuk
berkontemplasi karena sastra menyodorkan interpretasi pribadi yang berhubungan
dengan imajinasi.
C.
Jenis–Jenis
Prosa – Fiksi
1. Prosa Modern
Dalam sastra modern, ada
beberapa jenis karya prosa fiksi, yaitu novel, novelet, dan cerita pendek
(cerpen).
a.
Cerita
Pendek (cerpen)
Secara sederhana cerita
pendek dapat diartikan sebagai cerita berbentuk prosa yang pendek. Ukuran
pendek di sini bersifat relatif. Menurut Edgar Allan Poe, sastrawan kenamaan
Amerika, ukuran pendek di sini adalah selesai dibaca dalam sekali duduk, yakni
kira-kira kurang dari satu jam. Adapun Jakob Sumardjo dan Saini K.M (1995:30)
menilai ukuran pendek ini lebih didasarkan pada keterbatasan pengembangan
unsur-unsurnya. Cerpen memiliki efek tunggal dan tidak kompleks. Cerpen, dilihat
dari segi panjangnya, cukup bervariasi. Ada cerpen yang pendek (short short
story), berkisar 500-an kata; ada cerpen yang panjangnya cukupan (middle short
story), dan ada cerpen yang panjang (long short story) biasanya terdiri atas
puluhan ribu kata. Dalam kesusastraan di Indonesia, cerpen yang diistilahkan
dengan short short story, disebut dengan cerpen mini. Sudah ada antologi cerpen
seperti ini, misalnya antologi : Ti Pulpen Nepi Ka Pajaratan Cinta. Contoh
untuk cerpen-cerpen yang panjangnya sedang (middle short story) cukup banyak.
Cerpen-cerpen yang dimuat di surat kabar adalah salah satu contohnya. Adapun
cerpen yang long short story biasanya cerpen yang dimuat di majalah. Cerpen, ”Sri
Sumariah” dan “Bawuk” karya Umar Khayam juga termasuk ke dalam cerpen yang
panjang ini.
b.
Novelet
Di dalam khasanah
prosa, ada cerita yang yang panjangnya lebih panjang dari cerpen, tetapi lebih
pendek dari novel. Jadi, panjangnya antara novel dan cerpen. Jika
dikuantitaatifkan, jumlah dan halamannya sekitar 60 s.d 100 halaman. Itulah
yang disebut novelet. Dalam penggarapan unsur-unsurnya : tokoh, alur, latar,
dan unsur-unsur yang lain, novelet lebih luas cakupannya dari pada cerpen.
Namun, dimaksudkan untuk memberi efek tunggal.
c.
Novel
Kata novel berasal dari
bahasa Italia, novella, yang berati barang baru yang kecil. Pada awalnya, dari
segi panjangnya noovella memang sama dengan cerita pendek dan novelet. Novel
kemudian berkembang di Inggris dan Amerika. Novel di wilayah ini awalnya
berkembang dari bentuk-bentuk naratif nonfiksi, seperti surat, biografi, dan
sejarah. Namun seiring pergeseran masyarakat dan perkembangan waktu, novel
tidak hanya didasarkan pada data-data nonfiksi, pengarang bisa mengubah novel
sesuai dengan imajinasi yang dikehendakinya.
Yang membedakan novel
dengan cerpen dan novelet adalah segi panjang dan keluasan cakupannya. Dalam
novel, karena jauh lebih panjang, pengarang dapat menyajikan unsur-unsur
pembangun novel itu: tokoh, plot, latar, tema, dll. secara lebih bebas, banyak,
dan detil. Permasalahan yang diangkatnya pun lebih kompleks Dengan demikian
novel dapat diartikan sebagai cerita berbentuk prosa yang menyajikan
permasalahn-permasalahan secara kompleks, dengan penggarapan unsur-unsurnya
secara lebih luas dan rinci.
d.
Roman
Kehadiran dan
keberadaan roman sebenarnya lebih tua dari pada novel. Roman (romance) berasal
dari jenis sastra epik dan romansa abad pertengahan. Jenis sastra ini banyak
berkisah tentang hal-hal yang sifatnya romantik, penuh dengan angan-angan,
biasanya bertema kepahlawanan dan percintaan. Istilah roman dalam sastra
Indonesia diacu pada cerita-cerita yang ditulis dalam bahasa roman (bahasa
rakyat Prancis abad pertengahan) yang masuk ke Indonesia melalui kesusastraan
Belanda. Di Indonesia apa yang diistilahkan dengan roman, ternyata tidak
berbeda dengan novel, baik bentuk, maupun isinya. Oleh karena itu, sebaiknya
istilah roman dan novel disamakan saja. Cerpen, novel/roman, dan novelet di
atas berjenis-jenis lagi. Penjenisan itu dapat dilihat dari temanya, alirannya,
maupun dari kategori usia pembaca. Terkait dengan penjenisan berdasarkan
kategori usia pembaca, kita mengenal pengistilahan sastra anak, sastra remaja,
dan sastra dewasa. Begitu pula dengan jenis prosa di atas, baik cerpen, novel,
maupun novelet. Penjenisan itu disesuaikan dengan karakteristik usia
pembacanya, baik dari segi isi, maupun penyajiannya. Sebagai contoh, sastra
anak (cerpen anak, novel anak) dari segi isinya akan menyuguhkan
persoalan-persoalan dan cara pandang sesuai dengan dunia anak-anak. Begitu pula
dengan penyajiannya, yang menggunakan pola penyajian dan berbahasa sederhana
yang dapat dipahami anak-anak. Sastra remaja pun demikian, persoalan dan
penyajiannya adalah sesuai dengan dunia remaja, seperti percintaan,
persahabatan, petualangan, dan lain-lain.
2. Prosa Lama
Yang dimaksud dengan
istilah prosa lama di sini adalah karya prosa yang hidup dan berkembang dalam
masyarakat lama Indonesia, yakni masyarakat tradisional. di wilayah Nusantara.
Jenis sastra ini pada awalnya muncul sebagai sastra lisan. Prosa lama sering
pula diistilahkan dengan folklor (cerita rakyat), yakni cerita dalam kehidupan
rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi secara lisan. Dalam istilah
masyarakat umum, jenis prosa lama sering disebut dengan dongeng. Ada beberapa jenis
prosa lama diantaranya, yaitu:
a.
Dongeng, adalah cerita yang sepenuhmya merupakan
hasil imajinasi atau khayalan pengarang di mana yang diceritakan seluruhnya
belum pernah terjadi. Dongeng sendiri banyak ragamnya, yaitu sebagai
berikut :
§ Fabel
adalah cerita rekaan tentang binatang dan dilakukan atau para pelakunya binatna
g yang diperlakukan seperti manusia. Contoh: Cerita Si Kancil yang Cerdik, Kera
Menipu Harimau, dan lain-lain.
§ Legenda
adalah dongeng tentang suatu kejadian alam, asal-usul suatu tempat, benda, atau
kejadian di suatu tempat atau daerah. Contoh: Asal Mula Tangkuban Perahu, Malin
Kundang, Asal Mula Candi Prambanan, dan lain-lain.
§ Mite
adalah cerita yang mengandung dan berlatar belakang sejarah atau hal yang sudah
dipercayai orang banyak bahwa cerita tersebut pernah terjadi dan mengandung
hal-hal gaib dan kesaktian luar biasa. Contoh: Nyi Roro Kidul.
§ Cerita
Penggeli Hati, sering pula diistilahkan dengan cerita noodlehead karena
terdapat dalam hampir semua budaya rakyat. Cerita-cerita ini mengandung unsur
komedi (kelucuan), omong kosong, kemustahilan, ketololan dan kedunguan, tapi
biasanya mengandung unsur kritik terhadap perilaku manusia/mayarakat. Contohnya
adalah Cerita Si Kabayan, Pak Belalang, Lebai Malang, dan lain-lain.
§ Cerita
Perumpamaan adalah dongeng yang mengandung kiasan atau ibarat yang berisi
nasihat dan bersifat mendidik. Sebagai contoh, orang pelit akan dinasihati
dengan cerita seorang Haji Bakhil.
§ Sage,
adalah cerita lama yang berhubungan dengan sejarah, yang menceritakan
keberanian, kepahlawanan, kesaktian dan keajaiban seseorang. Contoh :
Calon Arang, Ciung Wanara, Airlangga, Panji, Smaradahana, dan lain-lain.
§ Parabel,
adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan
menggunakan ibarat atau perbandingan. Contoh : Kisah Para Nabi, Hikayat
Bayan Budiman, Bhagawagita, dan lain-lain.
b.
Hikayat adalah cerita, baik sejarah,
maupun cerita roman fiktif, yang dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat
juang, atau sekedar untuk meramaikan pesta. Contoh; Hikayat Hang Tuah, Hikayat
Seribu Satu Malam, Kabayan, si Pitung, Hikayat si Miskin, Hikayat Indra
Bangsawan, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Raja Budiman, dan lain-lain.
c.
Kisah adalah karya sastra lama yang
berisi cerita tentang perjalanan atau pelayaran seseorang dari satu tempat ke
tempat lain. Contoh: Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan, Kisah
Abullah ke Jeddah, dan lain-lain.
d. Sejarah (tambo), adalah salah satu
bentuk prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah.
Cerita yang diungkapkan dalam sejarah bisa dibuktikan dengan fakta. Selain
berisikan peristiwa sejarah, juga berisikan silsilah raja-raja. Sejarah yang
berisikan silsilah raja ini ditulis oleh para sastrawan masyarakat lama.
Contoh : Sejarah Melayu karya datuk Bendahara Paduka Raja alias Tun Sri
Lanang yang ditulis tahun 1612.
e. Cerita
berbingkai, adalah cerita yang didalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan
oleh pelaku-pelakunya. Contoh : Seribu Satu Malam.
Dari jenis-jenis cerita
di atas, ada juga yang dikhususkan sebagai cerita anak. Yang termasuk cerita
anak dari khasanah prosa lama antara lain: cerita binatang (contohnya Cerita
Kancil dan Buaya, Burung Gagak dan Serigala, dan lain-lain), cerita noodlehead
(contohnya: Cerita Pak Kodok, Pak Pandir, PakBelalang, Si Kabayan, dan lain-lain).
Contoh prosa fiksi berupa hikayat dari tanah Betawi:
HARI-HARI AKHIR BANG PITUNG
Betawi
Oktober 1893. Rakyat Betawi di kampung-kampung tengah berkabung. Dari mulut ke
mulut mereka mendengar si Pitung atau Bang Pitung meninggal dunia, setelah
tertembak dalam pertarungan tidak seimbang dengan kompeni. Bagi warga Betawi,
kematian si Pitung merupakan duka mendalam. Karena ia membela rakyat kecil yang
mengalami penindasan pada masa penjajahan Belanda. Sebaliknya, bagi kompeni
sebutan untuk pemerintah kolonial Belanda pada masa itu, dia dilukiskan sebagai
penjahat, pengacau, perampok, dan entah apa lagi.
Jagoan
kelahiran Rawa Belong, Jakarta Barat, ini telah membuat repot pemerintah
kolonial di Batavia, termasuk gubernur jenderal. Karena Bang Pitung merupakan
potensi ancaman keamanan dan ketertiban hingga berbagai macam strategi
dilakukan pemerintah Hindia Belanda untuk menangkapnya hidup atau mati.
Pokoknya Pitung ditetapkan sebagai orang yang kudu dicari dengan status
penjahat kelas wahid di Betawi.
Bagaimana
Belanda tidak gelisah, dalam melakukan aksinya membela rakyat kecil Bang Pitung
berdiri di barisan depan. Kala itu Belanda memberlakukan kerja paksa terhadap
pribumi termasuk ‘turun tikus’. Dalam gerakan ini rakyat dikerahkan membasmi
tikus di sawah-sawah disamping belasan kerja paksa lainnya. Belum lagi
blasting (pajak) yang sangat memberatkan petani oleh para tuan tanah.
Si Pitung, yang sudah bertahun-tahun menjadi incaran
Belanda, berdasarkan cerita rakyat, mati setelah ditembak dengan peluru emas
oleh schout van Hinne dalam suatu penggerebekan karena ada yang mengkhianati
dengan memberi tahu tempat persembunyiannya. Ia ditembak dengan peluru emas
oleh schout (setara Kapolres) van Hinne karena dikabarkan kebal dengan peluru
biasa. Begitu takutnya penjajah terhadap Bang Pitung, sampai tempat ia
dimakamkan dirahasiakan. Takut jago silat yang menjadi idola rakyat kecil ini
akan menjadi pujaan.
Si Pitung, berdasarkan cerita rakyat (folklore) yang masih
hidup di masyarakat Betawi, sejak kecil belajar mengaji di langgar (mushala) di
kampung Rawa Belong. Dia, menurut istilah Betawi, ‘orang yang denger kate’. Dia
juga ‘terang hati’, cakep menangkap pelajaran agama yang diberikan ustadznya,
sampai mampu membaca (tilawat) Alquran. Selain belajar agama, dengan H Naipin,
Pitung –seperti warga Betawi lainnya–, juga belajar ilmu silat. H Naipin, juga
guru tarekat dan ahli maen pukulan.
Suatu ketika di usia remaja –sekitar 16-17 tahun, oleh
ayahnya Pitung disuruh menjual kambing ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Dari kediamannya di Rawa Belong dia membawa lima ekor kambing naik gerobak.
Ketika dagangannya habis dan hendak pulang, Pitung dibegal oleh beberapa
penjahat pasar. Mulai saat itu, dia tidak berani pulang ke rumah. Dia tidur di
langgar dan kadang-kadang di kediaman gurunya H Naipan. Ini sesuai dengan
tekadnya tidak akan pulang sebelum berhasil menemukan hasil jualan kambing. Dia
merasa bersalah kepada orangtuanya. Dengan tekadnya itu, dia makin memperdalam
ilmu maen pukulan dan ilmu tarekat. Ilmu pukulannya bernama aliran syahbandar.
Kemudian Pitung melakukan meditasi alias tapa dengan
tahapan berpuasa 40 hari. Kemudian melakukan ngumbara atau perjalanan guna
menguji ilmunya. Ngumbara dilakukan ke tempat-tempat yang ‘menyeramkan’ yang
pasti akan berhadapan dengan begal.
Salah satu ilmu kesaktian yang dipelajari Bang Pitung
disebut Rawa Rontek. Gabungan antara tarekat Islam dan jampe-jampe Betawi.
Dengan menguasai ilmu ini Bang Pitung dapat menyerap energi lawan-lawannya.
Seolah-olah lawan-lawannya itu tidak melihat keberadaan Bang Pitung. Karena itu
dia digambarkan seolah-olah dapat menghilang. Menurut cerita rakyat, dengan
ilmu kesaktian rawa rontek-nya itu, Bang Pitung tidak boleh menikah. Karena
sampai hayatnya ketika ia tewas dalam menjelang usia 40 tahun Pitung masih
tetap bujangan.
Si Pitung yang mendapat sebutan ‘Robinhood’ Betawi,
sekalipun tidak sama dengan ‘Robinhood’ si jago panah dari hutan Sherwood,
Inggris. Akan tetapi, setidaknya keduanya memiliki sifat yang sama: Selalu
ingin membantu rakyat tertindas. Meskipun dari hasil rampokan terhadap kompeni
dan para tuan tanah yang menindas rakyat kecil.
Sejauh ini, tokoh legendaris si Pitung dilukiskan sebagai
pahlawan yang gagah. Pemuda bertubuh kuat dan keren, sehingga menimbulkan rasa
sungkan setiap orang yang berhadapan dengannya. Dalam film Si Pitung yang
diperankan oleh Dicky Zulkarnaen, ia juga dilukiskan sebagai pemuda yang gagah
dan bertubuh kekar. Tapi, menurut Tanu Trh dalam ‘Intisari’ melukiskan
berdasarkan penuturan ibunya dari cerita kakeknya, Pitung tidak sebesar dan
segagah itu. ”Perawakannya kecil. Tampang si Pitung sama sekali tidak menarik
perhatian khalayak. Sikapnya pun tidak seperti jagoan. Kulit wajahnya
kehitam-hitaman, dengan ciri yang khas sepasang cambang panjang tipis, dengan
ujung melingkar ke depan.”
Menurut
Tanu Trh, ketika berkunjung ke rumah kakeknya berdasarkan penuturan ibunya,
Pitung pernah digerebek oleh schout van Hinne. Setelah seluruh isi rumah
diperiksa ternyata petinggi polisi Belanda ini tidak menemukan si Pitung.
Setelah van Hinne pergi, barulah si Pitung secara tiba-tiba muncul setelah
bersembunyi di dapur. Karena belasan kali berhasil meloloskan diri dari incaran
Belanda, tidak heran kalau si Pitung diyakini banyak orang memiliki ilmu
menghilang. ”Yang pasti,” kata ibu, seperti dituturkan Tanu Trh, ”dengan
tubuhnya yang kecil Pitung sangat pandai menyembunyikan diri dan bisa
menyelinap di sudut-sudut yang terlalu sempit bagi orang-orang lain.” Sedang
kalau ia dapat membuat dirinya tidak tampak di mata orang, ada yang meyakini
karena ia memiliki kesaksian ‘ilmu rontek’
Sumber:
Apresiasi Prosa Fiksi dan
Pembelajarannya . (2010). [online]. Tersedia, (http://ebookfreetoday.com/view-
pdf.php?bt=PANDUAN-APRESIASI-PROSA%E2%80%93-FIKSI&lj
=http://file.upi.edu/Direktori/
FPBS/JUR._PEND._BHS._DAN_SASTRA_INDONESIA/196606291991031-DENNY_ISKAND
AR/Bahan_Ajar_Prosa-Fiksi_PLPG_SMP.pdf).
[22 April 2012].
Teori Sastra. (2010). [online].
Tersedia, http;//pustaka.ut.ac.id/website/index.php?option= com_content&
view=article&id=58:pbin-4104-teori-sastra<emid=75&catid=30:fkip.
[22 April 2012].
Prosa. (2012). [online]. Tersedia,( http://id.wikipedia.org/wiki/Prosa
) . [22 April 2012].
Kumpulan Cerpen Kompas.
(2012). [online]. Tersedia,( http://cerpenkompas.wordpress.com
/2012/02/26/laki-laki-pemanggul-goni/#more-1533
) . [22 April 2012].
Hikayat Dari Tanah Betawi (2008).
[online]. Tersedia,( http://iyonribi.multiply.com/journal/item/102/
HIKAYAT_DARI_TANAH_BETAWI)
. [24 April 2012].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar